NAMA Al-Khansa mungkin lebih sering dikenal dalam sejarah sastra Arab sebagai penyair perempuan yang piawai merangkai syair tentang kehilangan. Namun, di balik keindahan puisinya, tersimpan kisah seorang shahabiyah yang memiliki keteguhan hati luar biasa. Nama lengkapnya adalah Tumadhir binti Amr bin al-Harits bin asy-Syarid as-Sulamiyah. Ia berasal dari kabilah Bani Sulaim dan hidup melewati dua zaman, yakni masa jahiliah dan masa Islam.
Sebelum memeluk Islam, Al-Khansa sudah dikenal sebagai penyair ternama. Namanya semakin masyhur setelah dua saudara laki-lakinya, Muawiyah dan Shakhr, meninggal dalam peperangan. Kesedihan mendalam membuatnya banyak menulis syair ratapan.
Baca Juga: Pengertian, Tata Cara, dan Bacaan Shalat Istikharah
Kisah Al-Khansa, Shahabiyah Penyair yang Mengubah Air Mata Menjadi Kekuatan Iman
Namun, syair-syair itu bukan sekadar ungkapan duka. Dari sana terlihat bagaimana ia memiliki kemampuan bahasa yang kuat, mampu menggambarkan kehilangan dengan kata-kata yang menyentuh. Perpustakaan Kongres Amerika Serikat juga mencatat Al-Khansa sebagai salah satu penyair terkemuka Arab pada masa akhir pra-Islam.
Ketika Islam datang, Al-Khansa tidak menutup diri dari ajaran baru tersebut. Ia datang bersama rombongan kaumnya menghadap Rasulullah SAW dan kemudian memeluk Islam. Sejak saat itu, perjalanan hidupnya memasuki babak baru. Jika sebelumnya kesedihan begitu kuat mewarnai kehidupannya, keimanan memberikan cara pandang yang berbeda dalam menghadapi kehilangan.
Salah satu bagian paling terkenal dari kisah Al-Khansa adalah tentang empat putranya. Dalam berbagai sumber sejarah, disebutkan bahwa keempat putranya ikut dalam Perang Qadisiyah dan gugur. Sebelum berangkat, Al-Khansa memberikan nasihat kepada mereka agar teguh dan mengingat pahala yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Kisah nasihat tersebut kemudian menjadi bagian yang paling sering dikenang ketika membicarakan sosok Al-Khansa.
Yang membuat kisahnya terasa begitu kuat bukan hanya keberanian melepas anak-anaknya ke medan perang. Setelah mendengar keempat putranya gugur, Al-Khansa disebut tetap memuji Allah dan berharap dapat berkumpul kembali dengan mereka dalam rahmat-Nya. Sikap tersebut menggambarkan bagaimana keimanan dapat mengubah cara seseorang memandang musibah. Kehilangan tetaplah kehilangan, tetapi ia tidak membiarkan kesedihan membuatnya berputus asa.
Dari Al-Khansa, kita juga belajar bahwa menjadi perempuan kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Ia pernah merasakan kehilangan yang sangat dalam. Ia juga dikenal melalui syair-syair ratapannya. Akan tetapi, setelah mengenal Islam, kesedihan tersebut tidak membuatnya kehilangan arah. Justru keteguhan dan keyakinannya menjadi bagian penting dari kisah hidupnya.
Al-Khansa juga menjadi bukti bahwa perempuan pada masa awal Islam memiliki peran dan keistimewaan masing-masing. Ada yang dikenal karena ilmu, ada yang karena keberanian, ada pula yang karena kemampuan menjaga keluarga. Al-Khansa dikenang karena perpaduan antara kecerdasan, kemampuan bersyair, keteguhan karakter, dan keimanan.
Kisahnya relevan untuk kehidupan sekarang. Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat dicintai, rasa sedih tentu manusiawi. Namun, Al-Khansa mengajarkan bahwa kesedihan tidak harus berakhir menjadi kelemahan. Dengan iman, seseorang dapat belajar menerima takdir tanpa kehilangan harapan kepada Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Al-Khansa akhirnya tidak hanya dikenang sebagai penyair perempuan hebat dari Arab. Ia menjadi salah satu sosok shahabiyah yang kisahnya mengingatkan kita tentang arti sabar, ikhlas, dan kuat ketika diuji oleh kehilangan. Jejak hidupnya menunjukkan bahwa air mata dan keteguhan hati bisa berjalan beriringan. [DW]
Sumber: Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Ahmad Rifai. Insan Kamil: 2016





