ADA luka yang tidak langsung hilang meskipun waktu terus berjalan. Ada pula kemarahan yang awalnya muncul karena merasa disakiti, tetapi perlahan berubah menjadi sesuatu yang terus dibawa dalam hati. Tanpa disadari, kita mungkin sudah terlalu lama menyimpan kecewa, dendam, atau kebencian kepada seseorang. Padahal, hati juga membutuhkan ruang untuk beristirahat dan kembali tenang.
Sesungguhnya, yang perlu disembuhkan terlebih dahulu bukan hanya luka yang terlihat, tetapi juga keterikatan jiwa terhadap kebencian dan emosi kemarahan. Sebab ketika hati terus menggenggam rasa benci, kita sendiri yang akhirnya merasa lelah. Pikiran dipenuhi kejadian masa lalu, hati mudah tersulut ketika mengingatnya, bahkan kebahagiaan yang seharusnya bisa dinikmati menjadi terganggu.
Baca Juga: Kedudukan Hamba yang Jujur di Sisi Allah
Saatnya Melepaskan Kebencian Sebelum Kembali kepada Allah
Memaafkan memang tidak selalu mudah. Terlebih jika luka itu datang dari orang yang kita percaya. Ada perkataan yang mungkin masih terngiang, perlakuan yang belum terlupakan, atau pengkhianatan yang membuat kita sulit percaya kembali. Namun, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan juga bukan berarti kita harus kembali dekat dengan orang yang pernah menyakiti.
Terkadang, memaafkan adalah cara untuk membebaskan diri sendiri. Kita memilih berhenti membawa kesalahan orang lain ke dalam setiap hari yang baru. Kita tidak lagi membiarkan peristiwa yang telah berlalu mengendalikan perasaan dan keputusan hari ini.
Begitu pula dengan kemarahan. Marah adalah bagian dari manusia, tetapi jangan sampai kemarahan menetap terlalu lama hingga mengubah hati menjadi keras. Belajarlah menenangkan diri sebelum berbicara, menahan lisan ketika emosi memuncak, dan memberi waktu kepada hati untuk berpikir dengan lebih jernih.
Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan hidup ini berakhir. Tidak ada yang dapat memastikan berapa lama lagi kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, alangkah baiknya jika kita berusaha pulang kepada Allah dengan hati yang lebih ringan.
Bukan berarti hidup tanpa pernah terluka. Bukan pula berarti harus melupakan semua kejadian. Kita hanya sedang belajar menyerahkan apa yang tidak mampu kita ubah kepada Allah. Biarkan Dia yang mengurus perkara yang telah terjadi, sementara kita fokus memperbaiki hati dan amal.
Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada Allah seorang diri. Harta, kedudukan, pujian, bahkan orang-orang yang selama ini kita sayangi tidak akan ikut masuk ke dalam kubur. Yang menemani hanyalah amal dan keadaan hati kita.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Maka, sebelum waktunya tiba, mari belajar melepaskan kebencian. Semoga ketika kembali kepada Allah, kita membawa hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih tenang, dan kehidupan yang diisi dengan lebih banyak kebaikan. [DW]
Sumber: Ustadz dr.Zaidul Akbar




