BERBAGAI riwayat hadis menunjukkan bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerapkan pendekatan yang beragam dalam mengoreksi kesalahan dan memberikan nasihat kepada para sahabatnya.
Cara-cara tersebut mencerminkan prinsip pendidikan yang kontekstual, proporsional, dan berorientasi pada perbaikan perilaku, bukan sekadar pemberian sanksi.
Dikutip dari buku Manajemen Pendidikan Ala Rasulullah karya Imron Fauzi, dalam sejumlah peristiwa, Rasulullah menegur kesalahan secara langsung tanpa menundanya, terutama jika menyangkut prinsip akidah dan praktik ibadah.
Teguran tersebut sering disertai penjelasan dari sudut pandang syariat agar pelaku memahami dasar kesalahannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada situasi lain, beliau meluruskan kesalahpahaman yang muncul akibat pemahaman agama yang tidak utuh, seperti sikap berlebihan dalam beribadah yang justru menyimpang dari sunnah.
Pendekatan persuasif juga tampak ketika Rasulullah mengingatkan pentingnya niat, kejujuran, dan prasangka baik kepada sesama, terutama dalam kasus yang menyangkut keyakinan batin seseorang.
Dalam kondisi tertentu, beliau menekankan kasih sayang dan empati, khususnya kepada mereka yang menunjukkan penyesalan atas kesalahan yang dilakukan.
Metode Rasulullah dalam Mengoreksi Kesalahan dan Memberi Nasihat
Metode ini terlihat dalam penyelesaian pelanggaran ibadah yang disertai keterbatasan kemampuan pelaku untuk menunaikan konsekuensi hukum.
Selain itu, Rasulullah tidak terburu-buru menyalahkan seseorang sebelum memastikan duduk persoalan secara menyeluruh.
Beliau juga kerap menyampaikan koreksi secara umum tanpa menyebut nama, guna menjaga martabat individu yang bersangkutan.
Dalam beberapa kasus, beliau menawarkan alternatif yang benar sebagai solusi, bukan hanya melarang perbuatan yang keliru.
Baca juga: Cara Rasulullah Refreshing Melepas Penat
Terdapat pula situasi di mana Rasulullah menunjukkan ketegasan, termasuk kemarahan, hukuman, atau bahkan sikap menjauh, terutama ketika kesalahan berpotensi menimbulkan dampak sosial atau akidah yang serius.
Namun, tindakan tersebut selalu disesuaikan dengan karakter, latar belakang, dan kondisi psikologis pelaku.
Secara keseluruhan, riwayat-riwayat tersebut menggambarkan bahwa metode Rasulullah dalam menasihati tidak bersifat tunggal.
Pendekatannya menyeimbangkan antara ketegasan dan kelembutan, keadilan dan kasih sayang, serta penegakan kebenaran dan pemeliharaan hubungan sosial.[Sdz]





