UANG merupakan alat pembayaran yang sah. Tapi hati-hati, karena nilainya terus merosot. Alih-alih menyimpan uang akan tambah kaya, justru menjadi miskin.
Sebagian generasi kelahiran tahun 80-an, tentu hampir hafal lagu ‘Abang Tukang Bakso’. Lagu itu dirilis tahun 1989 dan dinyanyikan oleh penyanyi cilik bernama Melisa.
Inilah di antara isi lirik lagu itu.
Abang tukang bakso
Mari mari sini
Aku mau beli
Abang tukang bakso
Cepatlah kemari
Sudah tak tahan lagi
Satu mangkuk saja
Dua ratus perak
Yang banyak baksonya
Tidak pake saos
Tidak pake sambal
Juga tidak pake kol
….
Perhatikan harga bakso yang disebut penyanyi untuk satu mangkoknya. Ya, dua ratus perak. Harga segitu untuk porsi anak-anak, atau sekitar setengah dari porsi dewasa.
Jangan membayangkan harga segitu untuk membeli bakso di tahun ini. Karena hal itu sangat mustahil.
Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Apa di tahun itu, harga bakso memang murah dan di tahun saat ini sangat mahal?
Jawabannya bukan begitu. Hal ini karena di tahun itu nilai dua ratus perak sama dengan nilai bakso porsi anak-anak di zaman sekarang. Asumsikan sekitar sepuluh ribu rupiah. Hal ini karena satu porsi bakso untuk dewasa berkisar lima belas hingga dua puluh ribu rupiah, saat ini.
Dengan kata lain, terjadi penurunan nilai uang yang begitu besar. Nilai dua ratus perak sama dengan nilai sepuluh ribu rupiah. Atau telah terjadi penurunan nilai sekitar lima ribu persen dalam kurun waktu 36 tahun.
Bayangkan jika menyimpan uang satu juta rupiah di masa itu, nilainya akan ambrol luar biasa.
Turki Lebih Parah
Nasib negeri-negeri muslim memang tidak selalu seperti negara-negara teluk. Turki mengalami penurunan nilai mata uang yang begitu parah belum lama ini.
Pada tahun 2019, ada seorang pelancong Indonesia membawa uang tunai Lira Turki sebesar sepuluh ribu Lira. Pada tahun itu, nilai itu sama dengan 20 juta rupiah.
Apa yang terjadi saat ini? Nilai 10 ribu Lira Turki saat ini sama dengan 3.888.000 rupiah saja.
Jadi, jangan pernah menyimpan aset atau tabungan dalam bentuk mata uang. Tapi, dalam bentuk aset yang lain seperti emas atau barang berharga lainnya.
Dinar di Masa Rasulullah
Ada sebuah peristiwa di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu, ada seorang sahabat Nabi yang hidup sangat bersahaja tapi ingin menikah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiahkannya uang satu dinar untuk sekadar membeli kambing dan bumbunya. Dengan begitu, ia bisa mengadakan walimah atau resepsi ala kadarnya.
Peristiwa itu terjadi sudah lama sekali. Sekitar seribu empat ratus tahun yang lalu. Pertanyaannya, apakah terjadi penurunan nilai uang satu dinar di masa Nabi dengan di masa saat ini?
Nilai satu dinar sama dengan 4,25 gram emas. Harga satu gram emas saat ini bernilai sekitar 2 juta rupiah. Dengan kata lain, nilai satu dinar di masa Nabi sama dengan 8 juta rupiah lebih saat ini.
Jika nilai itu dimaksudkan untuk membeli kambing dan bumbunya, tentu masih sangat relevan. Bahkan, dapat lebih. [Mh]





