MENCIUM tangan dan kaki orang tua, orang shalih, ulama, dalam rangka memuliakan dan menghormatinya adalah boleh berdasarkan apa yang dialami oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan salaf.
Cium tangan dan kaki bukanlah kategori sujud atau membungkuk (ruku’) yang memang kedua hal itu terlarang dilakukan kepada sesama makhluk.
Imam at Tirmidzi Rahimahullah menuliskan dalam Sunan-nya:
ุจูุงุจู ู ูุง ุฌูุงุกู ููู ููุจูููุฉู ุงูููุฏู ููุงูุฑููุฌููู
Bab Tentang Mencium Tangan dan Kaki
Shafwan berkata:
ููููุจูููููุง ููุฏููููู ููุฑูุฌููููููู
Mereka (orang-orang Yahudi) mencium kedua tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kedua kakinya. (HR. At Tirmidzi no. 2733, kata At Tirmidzi: hasan shahih)
Kisah ini menunjukkan bolehnya mencium kaki orang terhormat, selama bukan untuk kesombongan dan kebanggaan.
Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan:
ูุงู ุงูุฃุจูุฑู : ูุฅูู ุง ูุฑููุง ู ุงูู ุฅุฐุง ูุงูุช ุนูู ูุฌู ุงูุชูุจุฑ ุ ูุงูุชุนุธูู ูู ู ููุนููู ุฐูู ุจู ุ ูุฃู ุง ุฅุฐุง ูุจููู ุฅูุณุงูู ูุฏู ุฅูุณุงูู ุ ุฃู ูุฌูู ุ ุฃู ุดูุฆูุง ู ู ุจุฏูู โ ู ุง ูู ููู ุนูุฑุฉ – ุนูู ูุฌู ุงููุฑุจุฉ ุฅูู ุงููู ุ ูุฏููู ุ ุฃู ูุนูู ู ุ ุฃู ูุดุฑูู : ูุฅู ุฐูู ุฌุงุฆุฒ .
Al Abhari berkata: “Imam Malik memakruhkan hal itu jika maksudnya sombong dan pengagungan terhadap orang yang dicium tersebut. Ada pun jika seseorang mencium tangan, wajah, atau bagian tubuh lainnya yang bukan aurat untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena faktor agamanya, ilmunya, kemuliaannya, maka hal itu BOLEH. (Syarh Shahih al Bukhari, 9/46).
Syaikh Abul ‘Ala al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan:
ูุงูุญุฏูุซ ูุฏู ุนูู ุฌูุงุฒ ุชูุจูู ุงููุฏ ูุงูุฑููุฌูู
Hadits ini menunjukkan bolehnya mencium tangan dan kaki. (Tuhfah al Ahwadzi, 7/437)
Syaikh Muhammad bin Shalih al’ Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklikย tautanย ini.
Mencium Tangan dan Kaki Orang Tua, Orang Shalih, Ulama
ุงูุญุงุตู : ุฃู ูุฐูู ุงูุฑุฌููู ูุจูููุง ูุฏู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุ ูุฑูุฌููู ุ ูุฃูุฑูู ุง ุนูู ุฐูู ุ ููู ูุฐุง : ุฌูุงุฒ ุชูุจูู ุงููุฏ ุ ูุงูุฑููุฌูู ุ ููุฅูุณุงู ุงููุจูุฑ ุงูุดุฑูู ูุงูุนูู ุ ูุฐูู ุชูุจูู ุงููุฏ ุ ูุงูุฑููุฌูู ุ ู ู ุงูุฃุจ ุ ูุงูุฃู ุ ูู ุง ุฃุดุจู ุฐูู ุ ูุฃู ููู ุง ุญููุงู ุ ููุฐุง ู ู ุงูุชูุงุถุน
Alhasil, dua laki-laki ini mencium kaki Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Rasulullah pun membiarkannya. Dari sini menunjukkan bolehnya mencium manusia pada tangannya, kakinya, karena kemuliaan dan ilmunya. Demikian juga mencium tangan dan kaki ayah, ibu, dan semisal mereka, karena mereka berhak disikapi seperti itu, dan itu menunjukkan kerendahan hati. (Syarh Riyadh ash Shalihin, 4/451).
Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr Hafizhahullah ditanya:
ุฃุจู – ุฃุญูุงูุงู – ูุฃู ุฑูู ุจุชูุจูู ุฑูุฌูู ู ุงุฒุญุงู ุ . ูุฃุฌุงุจ : ูุง ู ุงูุน ู ูู ุฃู ุชูุจููุง
Ayahku kadang saat bergurau memerintahkanku mencium kakinya. Beliau menjawab: “Tidak terlarang menciumnya.” (Syarh Sunan Abi Daud, 29/342).
Baca juga:ย Kisah Kesalihan dan Kecerdasan Seorang Anak
Hal ini juga dilakukan oleh Imam Muslim kepada Imam Bukhari. Sebagaimana kisah berikut:
ุนู ุฃุญู ุฏ ุจู ุญู ุฏูู ุงููุตุงุฑ ูุงู : ุณู ุนุช ู ุณูู ุจู ุงูุญุฌุงุฌ ูุฌุงุก ุฅูู ู ุญู ุฏ ุจู ุฅุณู ุงุนูู ุงูุจุฎุงุฑู ููุจููู ุจูู ุนูููู ุ ููุงู : ุฏุนูู ุญุชู ุฃูุจููู ุฑุฌููู ุ ูุง ุฃุณุชุงุฐ ุงูุฃุณุชุงุฐูู ุ ูุณูุฏ ุงูู ุญุฏุซูู ุ ูุทุจูุจ ุงูุญุฏูุซ ูู ุนููู .
Ahmad bin Hamdun Al Qishar berkata: aku mendengar Muslim bin Hajaj (Imam Muslim) mendatangi Muhammad bin Ismail al Bukhari. Dia mencium kening diantara kedua matanya, lalu berkata: “Biarkanlah aku mencium kedua kakimu wahai gurunya para guru, pimpinannya ahli hadits, dan dokternya penyakit hadits.” (Tarikh Baghdad, 13/102, Tarikh Dimasyqi, 52/68).
Kisah ini didhaifkan oleh Imam al ‘Iraqi, tapi Beliau dikoreksi oleh Imam Ibnu Hajar bahwa kisah ini shahih, diriwayatkan oleh Imam al Hakim, Imam al Baihaqi, dan lainnya. (An Nukat’ ala Kitab Ibnish Shalah, 2/715-716).
Maka, tidak apa-apa mencium kaki seseorang dengan ketentuan: dia adalah orang tua kita, atau shalih, berilmu, dengan tujuan menghormati kemuliaan dan ilmunya, bukan karena kesombongan mereka. Bukan pula dengan tujuan dan motivasi duniawi.[Sdz]





