MASJID itu simbol peradaban Islam. Tentang imannya, Islamnya, ekonominya, wawasan keilmuannya, dan gerakan sosialnya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah…” (QS. At-Taubah: 18)
Masjid ‘Akhir Zaman’
Ada semacam otokritik untuk Umat Islam tentang masjid di zaman saat ini. Di mana, masjid-masjid berdiri begitu megah tapi kegiatannya sepi. Bukan sekadar karena jamaahnya yang sedikit, tapi pengelolaannya yang salah kaprah.
Di mana salahnya? Dasar utama atau niat awal membangun masjid hanya sebagai pencitraan dan kepuasan kemewahan. Bukan sebagai kebutuhan umat.
Mereka begitu memperhatikan setiap detil fisik masjid, sejak di awal pembangunan hingga perawatannya. Tapi, tidak merasa perlu untuk membangun dan merawat moralitas, wawasan, dan kiprah sosial orang-orang di sekitarnya.
Inilah fenomena masjid di akhir zaman yang tidak pernah terjadi di masa salafus soleh. Di mana, masjid di masa itu sebagai pusat dakwah dan pendidikan, markas gerakan, pusat bantuan sosial umat, dan lainnya.
Jadi, fenomena masjid akhir zaman bukan sekedar megah dan mewahnya, tapi lebih karena fungsinya yang menyimpang.
Masjid dan Tingkat Keislaman Umat
Islam itu bukan sekadar ritualitas. Bukan sekadar shalat, shalawat, tilawah Qur’an, dan zikir-zikir. Lebih dari itu, Islam merupakan sistem yang mengubah umat manusia menuju kehidupan yang diridai Allah subhanahu wata’ala.
Ketika Islam dipandang hanya sebagai ritualitas saja, maka tidak heran jika masjid pun diperuntukkan hanya untuk ritual. Ada jam buka, dan ada jam tutupnya. Masjid seperti istana yang lebih banyak memamerkan kemegahan, bukan fungsi dakwah dan sosialnya.
Simbol Peradaban Islam
Pemimpin Turki, Recep Tayip Erdogan, pernah mengarahkan warganya untuk meninggikan menara masjid, minimal tidak jauh kalah tinggi dengan gedung-gedung di sekitarnya.
Untuk apa? Hal ini bukan untuk persaingan adu ‘kuat’ pembangunan masjid. Melainkan, untuk memudahkan umat Islam menemukan tempat utama dalam hidup: masjid.
Menara-menara yang tinggi, persis seperti ciri utama masjid-masjid di Turki, juga dimaksudkan bahwa wilayah tersebut merupakan milik umat Islam. Islam sedang tegak di bumi itu.
Di masa keemasan peradaban Islam masa lalu, seperti di masa Kekhalifahan Abbasiyah, masjid juga menjadi hal utama yang dibangun. Bukan sekadar untuk simbol keislaman, melainkan juga sebagai pusat kajian, dakwah, dan pertemuan umat dari seluruh penjuru negeri.
Jika kita menjadikan masjid megah hanya sebagai pencitraan dan berbangga-bangga tentang kemewahan, maka itulah yang dimaksud sebagai Masjid Akhir Zaman. [Mh]





