TIDAK sedikit orang yang tetap menjaga ibadah di tengah beratnya ujian hidup. Bibir mereka tak pernah lelah memanjatkan doa. Sujud masih dilakukan setiap hari, bahkan air mata sering mengiringi setiap permohonan kepada Allah. Namun, ada satu hal yang terkadang luput disadari, yaitu hati yang masih sibuk menggugat takdir.
Sering kali kita berkata, “Ya Allah, sembuhkanlah aku,” atau “Ya Allah, mudahkan urusanku.” Akan tetapi, di dalam hati masih tersimpan pertanyaan, “Mengapa harus aku?”, “Mengapa doaku belum dikabulkan?”, atau “Mengapa hidup orang lain terlihat lebih mudah?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlahan menunjukkan bahwa jiwa belum sepenuhnya berserah kepada Allah.
Berserah bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal bukan pula berarti pasrah tanpa ikhtiar. Islam justru mengajarkan agar seorang hamba melakukan usaha terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang. Ketika seseorang masih terus memprotes setiap ketetapan Allah, maka yang lelah bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Wisata Air di Semarang yang Menarik untuk Dikunjungi Saat Liburan
Ketika Doa Terus Terucap, Tetapi Hati Belum Benar-Benar Berserah
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa kecewa yang terus dipelihara dapat berubah menjadi beban batin. Kita mungkin tetap menjalankan salat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir, tetapi pikiran terus dipenuhi kegelisahan. Akibatnya, ibadah hanya menjadi rutinitas fisik, sementara hati belum benar-benar merasakan ketenangan yang dijanjikan Allah.
Tidak jarang pula seseorang mencari pelarian untuk menenangkan dirinya. Ada yang melampiaskan kesedihan dengan makan berlebihan, begadang hingga larut malam, atau terus memenuhi pikirannya dengan berbagai kekhawatiran. Padahal, akar persoalannya bukan sekadar masalah yang dihadapi, melainkan hati yang belum rela menerima bahwa Allah selalu memiliki rencana terbaik.
Allah tidak pernah meminta hamba-Nya memahami seluruh rahasia takdir. Yang Allah minta adalah kepercayaan. Seorang mukmin percaya bahwa apa yang Allah tetapkan pasti mengandung hikmah, meskipun belum mampu ia pahami saat ini. Keyakinan inilah yang perlahan melahirkan ketenangan.
Berserah juga berarti menerima bahwa waktu Allah tidak selalu sama dengan keinginan manusia. Ada doa yang dikabulkan dengan segera, ada yang ditunda, bahkan ada yang diganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Semua itu merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Ketika hati mulai belajar menerima, kita akan melihat masalah dengan sudut pandang yang berbeda. Ujian bukan lagi dianggap sebagai hukuman, tetapi sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah. Penantian bukan lagi sesuatu yang menyiksa, melainkan proses yang menguatkan keimanan.
Oleh karena itu, jika hari ini doa masih terus terucap, jangan lupa memeriksa keadaan hati. Apakah kita benar-benar telah ridha terhadap keputusan Allah? Apakah kita sudah mempercayakan seluruh urusan kepada-Nya, atau masih sibuk mengatur bagaimana Allah seharusnya menjawab doa kita?
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga memiliki hati yang lapang dalam menerima setiap ketetapan-Nya. Sebab, ketenangan sejati lahir ketika doa, sujud, dan hati berjalan dalam arah yang sama, yaitu penuh keyakinan, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Allah SWT. [DW]
Sumber: Instagram dr Zaidul Akbar





