PERISTIWA Isra dan Mi’raj tidak terjadi di sembarang tempat. Allah Ta’ala memilih Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha sebagai titik utama perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebuah pilihan yang menunjukkan keutamaan dan kedudukan khusus kedua masjid tersebut dalam ajaran Islam.
Pemilihan lokasi ini menegaskan bahwa Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha bukan hanya memiliki nilai historis, tetapi juga makna teologis dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam.
Sebagai Masjid Tertua di Muka Bumi
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dikenal sebagai dua masjid tertua yang dibangun di bumi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Berdasarkan hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa Masjidil Haram merupakan masjid pertama yang dibangun, kemudian disusul Masjidil Aqsha dengan selisih waktu sekitar empat puluh tahun.
Fakta ini menunjukkan bahwa kedua masjid tersebut telah menjadi pusat ibadah sejak masa awal sejarah manusia.
Tujuan Utama Perjalanan Ibadah
Dalam ajaran Islam, terdapat tiga masjid yang secara khusus dianjurkan untuk menjadi tujuan perjalanan ibadah, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.
Ini Beberapa Keutamaan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha
Baca juga: 20 Kewajiban Agar Bisa Berkontribusi Dalam Perjuangan Pembebasan Masjidil Aqsha (1)
Ketentuan ini menempatkan Masjidil Aqsha sejajar dengan dua masjid utama lainnya, serta menunjukkan keistimewaannya dalam praktik keagamaan umat Islam.
Sebagai Kiblat Pertama Umat Islam
Masjidil Aqsha memiliki peran penting sebagai arah kiblat shalat kaum Muslimin pada masa awal Islam.
Setelah hijrah ke Madinah, umat Islam menghadap Masjidil Aqsha selama sekitar 16 atau 17 bulan.
Perubahan kiblat ke Ka’bah di Masjidil Haram terjadi pada tahun kedua Hijriyah berdasarkan perintah Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 144.[Sdz]





