KISAH hijrah Hatna Danarda atau yang akrab dipanggil Arda Naff, musisi yang dikenal sebagai vokalis Naff, bukanlah kisah instan tentang popularitas. Ia adalah cerita panjang tentang kegagalan, kehilangan, dan proses meluruskan niat hidup.
Arda tumbuh di Madiun sebagai anak ketiga dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat orang tuanya bekerja keras berdagang. Pengalaman itu membentuk karakternya untuk tidak mudah mengeluh dan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus.
“Banyak orang bilang anak paling kecil itu dimanja, tapi tidak dengan saya. Saya tahu betul capeknya ibu saya ngurus dagangan. Dari situ saya belajar kerja keras sejak kecil,” ujar Arda saat menjadi salah satu Narasumber dalam Kajian DTPeduli bersama Hijabersmom Community pada Sabtu (17/1/2026) di Masjid Al-Latief, Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan dan kegiatan tersebut juga didukung oleh media online Chanelmuslim.com sebagai media partner.
Baca juga: Hijabersmom Community Gelar Kajian Bulanan Bersama Abi Amir Faishol di Masjid Alatief
Kisah Hijrah Arda Naff, Dari Anak Daerah hingga Menemukan Makna Rela
Meski berasal dari daerah, Arda memiliki mimpi besar di dunia musik. Ia gemar menulis lagu dan bernyanyi, bahkan sering mengikuti lomba sejak sekolah. Namun, jalan menuju industri musik di Jakarta penuh rintangan. Ia harus bolak-balik ke ibu kota hingga puluhan kali tanpa hasil pasti.
“Saya terbiasa nyanyi tanpa penonton, tanpa tepuk tangan. Tapi saya tetap senang. Karena saya sadar, ini bukan soal apresiasi, tapi memang ini passion saya,” katanya.
Titik balik hidup Arda terjadi ketika ia mendapat panggilan ke Jakarta di saat kondisi sang ibu sedang sakit. Dengan bekal hasil menggadaikan televisi keluarga, ia tetap berangkat mengejar kesempatan.
“Saya duduk di belakang motor sambil senyum, tapi di spion saya lihat bapak saya menahan air mata. Itu momen yang tidak pernah saya lupakan,” ungkapnya.
Tak lama setelah itu, ibunya wafat. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman spiritual paling berat dalam hidup Arda. Ia mengaku kehilangan arah dan mempertanyakan makna dari semua ambisi yang selama ini ia kejar.
“Di situ saya benar-benar sadar, kematian adalah pengingat terbaik. Popularitas tiba-tiba terasa tidak penting lagi,” ujarnya.
Untuk menenangkan diri, Arda memilih pergi umroh. Di sana, ia mulai menurunkan ekspektasi dan meluruskan niat hidupnya. Ia tidak lagi mengejar ketenaran, melainkan ingin menafkahi keluarga dan menjalani hidup dengan lebih jujur.
“Saya sudah terlalu sering kecewa, jadi ekspektasi saya turunkan. Saya bilang ke diri saya sendiri, dapat atau tidak, nggak apa-apa. Saya belajar rela,” tuturnya.
Setelah melalui proses tersebut, kesempatan justru datang. Arda lolos audisi dan resmi menjadi vokalis Naff. Hidupnya berubah drastis dalam waktu singkat, dari keterbatasan ekonomi hingga bisa menjalani tur dan tampil di berbagai kota.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Hal pertama yang ia lakukan setelah merasakan perubahan itu bukanlah merayakan popularitas, melainkan menghubungi ayahnya.
“Saya langsung telepon bapak dan tanya, ‘Pak, utangnya berapa?’ Buat saya, tanggung jawab itu jauh lebih penting,” katanya.
Dalam perjalanan hijrahnya, Arda juga menemukan pasangan hidup yang memiliki visi dan niat kuat dalam beribadah. Dari sana, ia semakin memahami pentingnya niat sebagai fondasi hidup.
“Yang lebih penting dari pertanyaan kapan nikah itu adalah dengan siapa kita menikah. Karena niat itu bahan bakar paling kuat,” ujarnya.
Kini, Arda memaknai kegagalan masa lalunya sebagai bagian dari rencana Allah untuk membawanya ke tempat yang lebih baik.
“Gagal berkali-kali itu memang sakit, tapi sekarang saya paham. Mungkin itu caranya Allah memindahkan saya ke tempat yang lebih layak,” pungkas Arda. [Din]





