• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Jumat, 29 Mei, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Khazanah

Khutbah Jumat: Hakikat Kurban antara Tradisi dan Esensi Ketundukan kepada Allah

29/05/2026
in Khazanah
Khutbah Jumat: Hakikat Kurban antara Tradisi dan Esensi Ketundukan kepada Allah

Sumber: bachtiarnasir.com

67
SHARES
516
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

SAAT ini kita masih berada di dalam bulan yang penuh dengan kemuliaan, yaitu bulan Żulḥijjah dan hari Tasyrīq. Mari kita renungkan bersama sejenak. Ketika fajar Hari Raya Iduladha menyingsing dan hari-hari Tasyrīq berjalan, apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

Apakah ibadah kurban ini hanya sekadar ritual tahunan memotong hewan? Apakah ia hanya sekadar ajang festival kuliner daging, di mana kita sibuk membagikan dan mengonsumsi makanan?

Jika esensi kurban hanya diletakkan pada jatuhnya tetesan darah hewan ke bumi atau pada banyaknya jumlah kilogram daging yang dibagikan, maka kita telah mereduksi (mengurangi) nilai spiritual yang sangat agung dari ibadah ini. Judul khutbah kita pada hari yang mulia ini adalah: “Kurban Mengajarkan Ketundukan, Bukan Sekadar Penyembelihan.”

Kata “Kurban” berasal dari bahasa Arab Qarraba – Yuqarribu – Qurbānan yang berarti “mendekatkan diri”. Maka, substansi dari kurban bukanlah hewan sembelihannya, melainkan kerelaan hati seorang hamba untuk menundukkan ego, nafsu, dan seluruh kepemilikan dunianya di hadapan perintah Allah demi mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah  secara tegas mengingatkan hal ini di dalam Al-Qur’an,

﴿لَن يَ.نَالَ ٱلَّلََّ لُُحومُهَا وَلََ دِمَاأؤُهَا وَلَٓكِن يَ.نَالُهُ ٱلتَّ.قْوَىٓ مِنكُمْ ۚ كَذَٓلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِِّوَُا۟ ٱلَّلََّ عَلَىٓ مَا

هَدَىٓكُمْ ۗ وَبَشِِّرِ ٱلْمُحْسِنِيَْ﴾

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (QS Al-Ḥajj [22]: 37).

Ayat ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang berkurban namun hatinya masih dipenuhi kesombongan. Allah tidak butuh dagingnya, Allah tidak butuh darahnya. Yang Allah nilai adalah kadar ketundukan, keikhlasan, dan ketakwaan yang ada di dalam dada-dada kita saat mengeluarkan harta untuk membeli hewan tersebut.

Jika kita menilik lebih jauh ke dalam Al-Qur’an, Allah meletakkan syariat penyembelihan berdampingan dengan orientasi tujuan hidup dan mati seorang mukmin. Di dalam Surat Al-An`ām ayat 162-163, Allah memerintahkan Rasulullah dan tentunya perintah ini berlaku untuk seluruh umatnya untuk mengikrarkan sebuah ketundukan yang mutlak,

]قُلْ إِنَّ صَلَتَِى وَنُسُكِى وَمَيَُْاىَ وَمَاََتِى لَِّلَِّ رَبِِّ ٱلْعَٓلَمِيَْ. لََ شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٓلِكَ أُمِرْتُ وَأَنََ۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِيَْ[

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.’” (QS. Al-An`ām [6]: 162-163)

Para ulama tafsir, di antaranya Imam Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa kata Nusuk dalam ayat ini secara khusus bermakna aż-żabḥ atau penyembelihan hewan kurban. Coba kita renungkan struktur ayat ini dengan mata hati. Mengapa Allah menyejajarkan urusan penyembelihan hewan (nusuk) dengan salat, hidup, bahkan urusan kematian?

Jawabannya adalah karena menyembelih hewan kurban adalah bentuk miniatur dari penyerahan hidup dan mati. Ketika seorang hamba dengan sukarela membeli hewan terbaik dengan harta yang ia cari dengan susah payah, lalu menuntunnya ke tempat penyembelihan, dan membiarkan darah hewan itu mengalir semata-mata karena melaksanakan perintah Allah, Dia sedang mendeklarasikan,

“Ya Allah, sebagaimana hewan ini rebah tak berdaya di bawah sebilah pisau demi perintah-Mu, begitulah jiwaku, hartaku, egoku, dan hidup matiku bersujud, tunduk, dan patuh di bawah syariat-Mu.”

Inilah hakikat Islam yang sesungguhnya, yaitu al-istislām, penyerahan diri secara total. Ibadah kurban menguji kita, apakah kita sudah menjadi hamba yang meletakkan ridha Allah di atas segalanya, ataukah kita masih menjadi hamba yang tebang pilih dalam menaati aturan agama.

Bukti bahwa kurban adalah madrasah ketundukan dan kepasrahan juga ditegaskan oleh Allah I dalam ayat lain, yakni dalam surah Al-Ḥajj ayat 34,

]وَلِكُلِِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱلَّلَِّ عَلَىٓ مَا رَزَقَ.هُم مِِّنۢ بَيَِمَةِ ٱلَْأنْ.عَٓمِ ۗ فَإِلَٓهكُُمْ إِلَٓهٌ وَٓحِدٌ فَ.لَأهُۥ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِِّرِ ٱلْمُخْبِتِيَْ[

“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).” (QS. Al-Ḥajj [22]: 34).

Perhatikan bagaimana akhir dari ayat ini. Setelah Allah menceritakan bahwa kurban adalah syariat yang diberikan kepada umat-umat terdahulu sebagai rasa syukur atas rezeki hewan ternak, Allah langsung menyambungnya dengan kalimat perintah, “Falahū aslimū” (Maka karena itu, berserah dirilah kalian kepada-Nya!)

Lalu Allah menutupnya dengan kalimat, “Wa basysyiril mukhbitīn” (Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang mukhbit, tunduk patuh, tenang hatinya dalam ketaatan).”

Ayat ini mempertegas bahwa muara dari seluruh ritual penyembelihan dari zaman umat terdahulu hingga umat Rasulullah adalah melahirkan jiwa yang mukhbit, jiwa yang tunduk, patuh, rendah hati, dan tidak memiliki penolakan sedikit pun terhadap ketetapan Allah.

Khutbah Jumat: Hakikat Kurban antara Tradisi dan Esensi Ketundukan kepada Allah

Pelajaran terbesar dari esensi kurban ini adalah: Islam adalah kepasrahan. Seringkali dalam hidup ini, kita diuji dengan perintah-perintah Allah yang bertentangan dengan hawa nafsu kita, bertentangan dengan logika ekonomi kita, atau bertentangan dengan tren sosial di sekitar kita.

Ketika Allah memerintahkan kita untuk menutup aurat dengan sempurna, nafsu kita berkata itu gerah dan ketinggalan zaman.

Ketika Allah memerintahkan kita meninggalkan riba dan transaksi haram, logika ekonomi kita berkata kita akan miskin dan tertinggal.

Ketika Allah memerintahkan kita untuk bangun di sepertiga malam atau melangkah ke masjid di waktu subuh, tubuh kita berkata bahwa tidur lebih nyaman.

Di sinilah jiwa kurban harus hadir. Kurban mengajarkan kita untuk berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku tundukkan logikaku, aku tundukkan nafsuku, aku tundukkan hartaku di hadapan syariat-Mu.”

Terkait hal ini, mari kita renungkan sebuah kutipan berharga dari seorang ulama salaf terkemuka, Imam Ḥasan al-Baṣri Raḥimahullāh. Beliau pernah memberikan nasihat mendalam tentang hakikat ketundukan batin,

لَيْسَ الِإيَمانُ بِلَتَّمَنِِّّ وَلَ بِلَتَّحَلِِّي ، وَلَكِنْ هُوَ مَا وَقَ.رَ فِِ الْقَلْبِ ، وَصَدَّقَ.تْهُ الَأعْمَالُ

“Iman itu bukanlah sekadar angan-angan atau hiasan lahiriah semata. Akan tetapi, iman adalah apa yang tertanam kuat di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan (ketundukan).” (Ibnu Al-Mubārak, az-Zuhdu wa ar-Raqā’iq, 545).

Jika kita mengaku beriman dan ikut merayakan kurban, namun sepulang dari tempat penyembelihan kita masih gemar bermaksiat, masih enggan salat, masih memakan harta yang haram, dan masih sombong kepada sesama manusia, maka kita belum memahami hakikat kurban yang sebenarnya.

Kita baru sebatas melakukan penyembelihan hewan, belum menyembelih sifat- sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita.

Jamaah Salat Jumat yang Dirahmati Allah Subḥānahū wa Ta’āla ,

Saat ini, kita berada di dalam Hari Tasyrīq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Żulḥijjah. Hari-hari ini bukanlah hari biasa. Ini adalah hari-hari agung yang secara khusus Allah sebutkan di dalam Al- Qur’an sebagai hari untuk memperbanyak zikir.

Allah berfirman,

]وَٱذكُْرُوا۟ ٱلَّلََّ أِفِ أَيَّمٍَّ مَّعْدُودَٓتٍ ۚ[

“Berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya (Hari Tasyrīq).” (QS. Al- Baqarah [2]: 203).

Rasulullah  juga menjelaskan kedudukan dan keutamaan hari-hari Tasyrīq ini dalam sebuah hadits yang sangat populer. Beliau  bersabda,

»أَيَّمَُّ التَّشْرِيقِ أَيَّمَُّ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ الَّلَِّ«

“Hari-hari Tasyrīq adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir (mengingat) Allah.” (HR Nasāi).

Ada rahasia spiritual yang sangat mendalam dari perpaduan antara “makan-minum” dan “zikir” dalam hadis di atas. Islam adalah agama yang indah dan seimbang. Allah melarang kita

berpuasa di hari-hari Tasyrīq ini. Allah ingin hamba-Nya menikmati rezeki-Nya, memakan daging kurban, dan merasakan kegembiraan fisik.

Namun, Allah tidak ingin fisik kita kenyang sementara ruhani kita kelaparan dan lalai. Oleh karena itu, nikmat makanan dan minuman tersebut harus dijadikan bahan bakar untuk meningkatkan ketundukan dan zikir kepada Allah.

Seorang ulama salaf terkemuka, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali Raḥimahullāh, dalam kitabnya yang monumental “Laṭāif al-Ma`ārif”, memberikan penjelasan yang sangat menggetarkan hati mengenai hari Tasyrīq, “Dalam sabda Rasulullah, ‘Sesungguhnya hari-hari itu adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah `Azza wa Jalla’, terdapat isyarat bahwa makan dan minum pada hari-hari raya sejatinya dimaksudkan sebagai sarana untuk memperkuat zikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya.

Itulah bentuk kesempurnaan syukur atas nikmat: menggunakan nikmat itu untuk mendukung ibadah.

Selain itu, Allah telah memerintahkan dalam Kitab-Nya agar manusia makan dari yang baik-baik dan bersyukur kepada-Nya. Maka barang siapa menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat, sungguh ia telah mengingkari nikmat Allah dan menukar nikmat itu dengan kekufuran.

Maka, sungguh ironis jika pada hari Tasyrīq ini kita melihat sebagian kaum muslimin justru menghabiskan waktu dengan bermaksiat, bernyanyi-nyanyi yang melalaikan, atau sibuk pamer hidangan makanan di media sosial dengan penuh kesombongan, sementara lisan mereka kering dari mengagungkan nama Allah.

Hari Tasyrīq adalah momentum emas bagi kita untuk:

  • melantunkan takbiran setiap selesai melaksanakan shalat fardhu (Takbir Muqayyad).
  • membaca basmalah dan takbir saat menyembelih hewan kurban yang
  • memperbanyak doa, terutama doa sapu jagat (Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah…), karena para salafuṣ ṣāliḥ menyatakan bahwa doa di hari-hari Tasyrīq adalah doa yang mustajab.

Sebagai penutup khutbah pertama ini, mari kita koreksi diri kita masing-masing. Ibadah kurban adalah barometer sejauh mana tingkat kepasrahan dan cinta kita kepada Allah dibandingkan dengan cinta kita pada harta benda.

Seringkali kita mampu membeli barang-barang elektronik yang mahal, mampu mengganti kendaraan, mampu membeli pakaian bermerek, namun ketika datang bulan Żulḥijjah, kita merasa berat untuk membeli seekor kambing atau patungan sepertujuh sapi.

Kita selalu merasa “tidak mampu”, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita “tidak mau” menundukkan ego kita.

Ingatlah peringatan keras dari Rasulullah r dalam sebuah hadis Ṣaḥīḥ,

»مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلََْ يُضَحِِّ، فَلََ يَ.قْرَبَنَّ مُصَلَّنَََ«

“Barang siapa yang memiliki kelapangan (harta) namun ia tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadis ini merupakan teguran psikologis yang luar biasa dari Nabi. Seolah-olah Nabi ingin mengatakan, “Jika kamu pelit kepada Allah yang telah memberikanmu segalanya, maka kesalehan sosial dan ibadah ritualmu ke masjid tidak ada artinya jika ego dan hartamu tidak mau kamu tundukkan untuk-Nya.”

Semoga Allah  membersihkan hati kita dari sifat kikir, menjauhkan kita dari sifat sombong, dan menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang memiliki ketundukan mutlak. Dan semoga hewan-hewan kurban yang disembelih pada tahun ini menjadi saksi ketakwaan kita di hadapan Allah kelak di hari Kiamat.

بَرََكَ اُلله لِِ وَلَكُمْ فِِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَ.فَعَنِّ وَإِيَّكَُّمْ بِاَِ فِيهِ مِنَ الْيَْتَِّ وَالذِّكِْرِ الَْحكِيمِ. أَقُولُ قَ.وْلِِ هَذَا وَأَسْتَ.غْفِرُ اَلله الْعَظِيمَ لِِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيَْ مِنْ كُلِِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَ.غْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الَحمْدُ لِله حَدًْْا كَثِياًْ كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لََ إِلَهَ إِلََّ اُلله وَحْدَهُ لََ شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ.

وَبَرَِكْ عَلَى سَيِِّدِنََ مُمََُّدٍ وَعَلَى آلِهِ

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِِّدَنََ مُمََُّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِِّدُ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِِّ وَسَلِِّمْ وَأَصْحَابِهِ التَّابِعِيَْ لَهمُْ بِِحْسَانٍ إِلََ يَ.وْمِ الْمَحْشَرِ.

أَٓييََ.هَُّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّ.قُوا۟ ٱلَّلََّ حَقَّ ت.قَُاتِهِۦ وَلََ تَوَُتُنَّ إِلََّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ[

Di khutbah yang kedua ini, mari kita bulatkan tekad kita untuk menjadikan sisa Hari Tasyrīq ini sebagai momentum perubahan diri. Jika hari ini kita belum mampu berkurban dengan hewan sembelihan karena keterbatasan ekonomi, maka jangan berkecil hati.

Masih ada kurban dalam bentuk lain yang bisa kita lakukan setiap detik: sembelihlah sifat malas kita, sembelihlah sifat sombong kita, sembelihlah hasad dan dengki yang merusak silaturahmi di antara kita.

Mari kita tundukkan diri kita sepenuhnya kepada aturan Allah, karena keselamatan sejati hanya ada dalam ketundukan kepada-Nya. Mari kita tundukkan kepala, menengadahkan tangan, memohon kepada Allah dengan hati yang khusyuk dan penuh harap. [DW]

Tags: Hakikat Kurban: Antara Tradisi dan Esensi Ketundukan
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

9 Alasan Kenapa Kita Harus Bersyukur

Next Post

7 Hal yang Perlu Diperhatikan Orangtua Saat Si Kecil Bermain di Luar Rumah

Next Post
7 Hal yang Perlu Diperhatikan Orangtua Saat Si Kecil Bermain di Luar Rumah

7 Hal yang Perlu Diperhatikan Orangtua Saat Si Kecil Bermain di Luar Rumah

Jakarta Islamic School Raih Nilai 100 Sempurna pada TKA 2026

Jakarta Islamic School Raih Nilai 100 Sempurna pada TKA 2026

Iduladha 2026, Salimah Bojonggede Sembelih 9 Ekor Sapi dan 1 Ekor Kambing Kurban

Iduladha 2026, Salimah Bojonggede Sembelih 9 Ekor Sapi dan 1 Ekor Kambing Kurban

  • Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    174 shares
    Share 70 Tweet 44
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    557 shares
    Share 223 Tweet 139
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8535 shares
    Share 3414 Tweet 2134
  • Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4371 shares
    Share 1748 Tweet 1093
  • Perbedaan Air Mani dan Madzi

    251 shares
    Share 100 Tweet 63
  • Iduladha 2026, Salimah Bojonggede Sembelih 9 Ekor Sapi dan 1 Ekor Kambing Kurban

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Perhatikan Batas Usia Masuk Sekolah Tahun Ajaran Baru 2025/2026

    120 shares
    Share 48 Tweet 30
  • Air Terjun Kapas Biru Lumajang, Keindahan Tersembunyi di Kaki Gunung Semeru

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Warna Hijab yang Cocok untuk Baju Warna Coklat Susu

    158 shares
    Share 63 Tweet 40
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    893 shares
    Share 357 Tweet 223
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga