BERHARAP pada Manusia, Maka Bersiaplah untuk Kecewa ditulis oleh Ustaz Cahyadi Takariawan.
Sejatinya, sebagai manusia sudah selayaknya menggantungkan harapan hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi bahkan yang tersembunyi di dalam hatimu sekalipun.
Dikisahkan bahwa sahabat Rasulullah sekaligus khalifah pertama yang menggantikan beliau setelah beliau wafat yakni Abubakar Ash-Shidiq juga pernah mengalami kekecewaan pada seorang manusia.
Ia kecewa terhadap kerabat dekatnya yang bernama Misthah bin Utsatsah. Misthah yang rutin mendapatkan bantuan kebaikan dari Abubakar, justru ikut menyebarkan berita hoax tentang Aisyah dalam kisah haditsul ifki.
Baca Juga: Manusia Sendiri yang Menjadikan Kondisinya Menjadi Buruk
Berharap pada Manusia, Maka Bersiaplah untuk Kecewa
Abubakar bersumpah untuk tidak mau memberi bantuan kepada Misthah selama-lamanya.
Namun sumpah Abubakar ini segera dijawab oleh Allah melalui turunnya ayat ke 22 surat An-Nur:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Akan sangat disayangkan jika kita menyesali tindakan baik yang pernah kita lakukan. Sungguh, kita telah kalah di titik itu. Jika kita bekerja dan berbuat baik dengan penuh harapan akan mendapatkan apresiasi positif dari manusia, bisa dipastikan kita akan mengalami kekecewaan yang teramat fatal. Inilah yang diingatkan oleh Ali bin Abi Thalib.
Setelah turun ayat ke 22 surat An-Nur, Abubakar segera meralat sumpahnya. Ia mengatakan, akan terus membantu Misthah seumur hidupnya, dan tak akan berhenti membantunya. Luar biasa kebesaran jiwa Abubakar, hendaknya kita belajar meneladaninya.
Bisa jadi, tindakan kebaikan kepada orang lain, tidak mendapatkan apresiasi seperti yang kita harapkan. Bahkan ada kalanya, mereka yang mendapatkan kebaikan dari kita, justru menjadi orang yang membenci dan memusuhi kita. Orang yang paling banyak kita bantu, bisa jadi justru paling memusuhi dan membenci kita.
Coba kita fokus kepada pertanyaan yang substansial: untuk siapakah kita berbuat kebaikan? Untuk siapakah kita bekerja?
Jika kita melandasinya dengan tujuan utama kepada Allah, maka kita akan fokus memberikan yang terbaik untuk Allah sehingga semua pengharapan kita, juga akan tertuju pada Allah daripada berharap pada manusia. [DW]





