ANGGOTA Komisi X DPR RI Bidang Pendidikan, Dr. H. Abdul Fikri Faqih, M.M., apresiasi langkah Jakarta Islamic School (JISc) yang menggabungkan kurikulum nasional, internasional, dan pendidikan keislaman dalam proses pembelajarannya. Menurutnya, model pendidikan seperti yang diterapkan JISc sejalan dengan kebutuhan dunia yang semakin global tanpa meninggalkan identitas bangsa.
Hal tersebut disampaikan Abdul Fikri saat diwawancarai tim ChanelMuslim.com pada acara Cultural Mission Farewell Performance Ratoh Jaroe Secondary JISc Goes to Korea 2026, yang berlangsung di Lapangan SESCO JISc, Jumat (24/7/2026).
Acara pelepasan tersebut menjadi momentum bagi para siswa Secondary JISc yang akan mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi budaya antarbangsa di Korea Selatan. Mereka akan menampilkan Tari Ratoh Jaroe, tarian tradisional Aceh yang sarat akan nilai kebersamaan, disiplin, dan spiritualitas. Kegiatan ini mengusung tema “Bringing Indonesia’s Culture, Spreading Harmony to the World”, sebagai wujud komitmen JISc memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara di panggung internasional.
Dalam kesempatan itu, Abdul Fikri menilai JISc telah mengambil langkah maju dalam mengembangkan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan global.
“Saya kira JISc ini sudah langkah maju dengan menerapkan tiga kurikulum. Undang-Undang Sisdiknas yang baru nanti juga akan diformulasi untuk mengantisipasi semuanya. Kita ini bagian dari penduduk dunia, sehingga di era yang borderless seperti sekarang tidak bisa hanya menggunakan kurikulum nasional tanpa mengenal kondisi dan situasi global,” ujarnya.
Baca juga: JISC Light Run 2026 Berakhir Sukses, Hadirkan Semangat Kebersamaan dan Gaya Hidup Sehat
Anggota Komisi X DPR RI Apresiasi Misi Budaya JISc ke Korea Selatan, Sebut Integrasi Kurikulum Jadi Model Pendidikan Masa Depan
Menurutnya, pendidikan Indonesia ke depan harus mampu mengakomodasi berbagai dimensi, mulai dari nilai kebangsaan, wawasan internasional, hingga kearifan lokal. Ia mencontohkan konsep penguasaan bahasa yang selama ini digaungkan, yakni mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
“Ini nantinya tidak hanya soal bahasa, tetapi juga kurikulum dan sistem pendidikan. Kalau seperti JISc, ada kurikulum nasional, internasional, dan keislaman. Dulu seolah-olah semuanya berjalan sendiri-sendiri, sekarang harus dibuat lebih lentur sehingga bisa mengakomodasi kebutuhan lokal maupun global,” jelasnya.
Abdul Fikri menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia harus menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan. Menurutnya, budaya lokal yang ditampilkan di forum internasional justru menjadi identitas bangsa yang membedakan Indonesia dari negara lain.
“Local genius itu harus diakomodasi. Tari Saman atau Ratoh Jaroe dari Aceh ketika dibawa ke Korea bisa menjadi simbol bangsa dan karakter Indonesia. Budaya seperti ini akan membuat masyarakat dunia tertarik mengenal Indonesia yang kaya dengan keberagaman budaya, bukan hanya satu wajah budaya saja,” katanya.
Ia menilai misi budaya yang dilakukan JISc merupakan bentuk diplomasi budaya yang sangat positif, karena para siswa tidak hanya membawa nama sekolah, tetapi juga memperkenalkan jati diri Indonesia kepada masyarakat dunia.
Abdul Fikri juga memberikan apresiasi atas inisiatif JISc yang secara mandiri mengirimkan delegasi budaya ke Korea Selatan. Menurutnya, meskipun keberangkatan tersebut bukan merupakan penugasan langsung dari pemerintah, langkah JISc tetap menjadi kontribusi nyata bagi bangsa.
“Mudah-mudahan, meskipun tidak ada amanat langsung dari Kementerian Kebudayaan ataupun Kementerian Pendidikan, tetapi karena ini dilakukan secara sukarela, JISc tetap eksis membawa nama Indonesia di kancah internasional. Ini merupakan kontribusi sekolah yang diselenggarakan masyarakat atau swasta dalam mengangkat nama bangsa,” ungkapnya.
Ia berharap semakin banyak lembaga pendidikan yang berinisiatif mengenalkan budaya Indonesia melalui berbagai forum internasional sebagai bagian dari diplomasi pendidikan dan kebudayaan.
Kepada para siswa Secondary JISc yang akan bertanding di Korea Selatan, Abdul Fikri berpesan agar tampil dengan penuh rasa percaya diri sekaligus tetap menguatkan nilai-nilai spiritual.
“Mudah-mudahan anak-anak ini percaya diri, tidak grogi, karena kita bangsa yang besar dan membawa budaya yang besar pula. Di dalam budaya kita ada nilai disiplin, ada nilai spiritual, sehingga itu menjadi kekuatan mereka saat tampil,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar para peserta senantiasa menggantungkan ikhtiar kepada Allah SWT dan menjadikan kompetisi sebagai sarana belajar serta mempererat persaudaraan antarbangsa.
“Selain percaya diri, mereka juga harus selalu memohon kepada Allah. Dinamika dunia ini banyak dipengaruhi hal-hal yang di luar perkiraan manusia. Karena itu spiritualitas harus tetap dijaga. Menang atau kalah adalah hal yang biasa, tetapi tetaplah berpikir positif. Insya Allah bisa meraih kemenangan,” tuturnya.
Melalui Cultural Mission Farewell Performance Ratoh Jaroe Secondary JISc Goes to Korea 2026, Jakarta Islamic School kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muslim berkarakter global. Dengan mengintegrasikan kurikulum nasional, internasional, dan nilai-nilai Islam, JISc tidak hanya membekali siswa dengan kompetensi akademik, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia agar mampu menjadi duta bangsa di tingkat internasional. [Din]





