MALAM itu, aku berbincang dengan anak bungsuku.
Dia bercerita tentang temannya yang dimarahi mamanya karena hanya mendapat nilai 90 terus.
Ia juga bercerita bahwa temannya selalu penasaran dengan bekal makan siangnya. Katanya, ibunya temannya melihat di Facebook kalau aku memang suka memasak.
Lalu, ia bercerita gurunya sempat salah paham. Anakku dikira main bola tanpa memakai sepatu, padahal sebenarnya ia hanya melepas sepatu karena ada kerikil di dalamnya.
Ia juga bercerita ketika mendapat nilai 89. Saat itu, semua teman sekelas memeluknya karena itu adalah pencapaian tertinggi untuk seorang newbie.
Malam itu, ia terus bercerita dan aku hanya mendengarkan.
Aku tidak intervensi.
Baik dan buruk anak maupun guru di sekolah adalah dunianya.
Aku hanya mendengar.
Nanti aku tanya, “Lalu solusinya bagaimana?”
Kadang aku memancing, “Should I come?”
Padahal aku juga tidak tahu harus bertemu siapa.
Namun anakku selalu menjawab, “Tidak usah. Biar aku sendiri yang menanyakan ke guru dan mempertahankan argumenku.”
Aku diam saja.
Dalam hati sebenarnya aku ingin ikut campur, memberi saran, atau menasehati: “Bilangnya begini saja, atau begitu, atau minta saksi untuk bersaksi.”
Tetapi anakku hanya menggeleng.
Aku khawatir kalau aku terlalu ikut campur, ia justru enggan bercerita lagi.
Baca juga: Mam ada di JIBBS atau JISc Kodam
Malam Itu dengan Anak Bungsu
Dari situ aku menyadari, itulah proses pendewasaan seorang anak.
Belajar menyelesaikan permasalahan tanpa intervensi orang tua yang berlebihan. Jika orang tua selalu turun tangan, anak justru tidak akan belajar menemukan solusi atas masalah hidupnya.
Dua hari kemudian, ia kembali bercerita dengan semangat, tentang hal-hal lain. Itu artinya masalah yang kemarin, termasuk ketika gurunya menuduh ia tidak memakai sepatu saat main bola, sudah selesai.
Memang tidak mudah berhadapan dengan guru untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Guru pun manusia, bisa saja salah paham atau keliru menilai. Namun bukan berarti guru melakukan pembunuhan karakter, membully, atau melakukan tindakan keji.
Sebaiknya semua dibicarakan dan diselesaikan secara kekeluargaan, dengan kasih sayang.
#BincangMalamSebelumTidur
#UdaraDingin9Derajat
#SemuaMasalahDapatDiselesaikanBaikBaik
𝑩𝒚: 𝑴𝒂𝒎 𝑭𝒊𝒇𝒊🌸
(Owner JISc/JIBBS/JIGSc)
+628111277155
Jakarta Islamic School (JISc)
“𝗠𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗖𝗮𝗿𝗮 𝗜𝗯𝘂”
www.jakartaislamicschool.com