USTAD Fatih Karim menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menemukan arah hidup dan menenangkan rezeki dalam Kajian Garis Poetih 2026. Kajian ini menjadi ruang refleksi spiritual bagi para jemaah untuk memahami kembali makna hidup, tujuan penciptaan, serta hubungan antara ketenangan jiwa dan petunjuk Allah.
Dalam penyampaiannya, Ustad Fatih Karim menyoroti fenomena banyaknya orang yang secara materi terlihat sukses, namun justru mengalami kegelisahan batin yang mendalam.
“Banyak orang sukses secara angka, tapi gelisah akut dalam jiwa, mentok atau nyasar dalam hidup. Duitnya banyak tapi jiwanya kosong, maka kita berarti butuh arah,” ujar Ustad Fatih Karim dalam Kajian Garis Poetih 2026 pada Sabtu (31/1/2026) di PIM 3.
Ia menjelaskan bahwa hidup tanpa arah yang jelas dapat membawa seseorang pada kebingungan dan kehancuran, meskipun memiliki harta dan jabatan.
“Orang yang salah arah tuh kaya gitu, bingung, gak bisa bedain mana anak mana istri, mana teman mana musuh, hancur hidupnya,” lanjutnya.
Baca juga: Dokter Aisah Dahlan Bahas Relasi Pasangan dalam Kajian “Faith Reflection”
Ustad Fatih Karim Jelaskan Menemukan Arah, Menenangkan Rezeki di Kajian Garis Poetih 2026
Ustad Fatih Karim menegaskan bahwa arah hidup sejati hanya dapat ditemukan melalui petunjuk Allah. Ia mengutip Surah Thaha ayat 123 yang berbunyi, “Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”
Selain itu, ia juga mengingatkan kembali tujuan utama penciptaan manusia sebagaimana tertuang dalam Surah Az-Zariyat ayat 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Menurut Ustad Fatih Karim, makna ibadah tidak terbatas pada ritual semata.
“Ibadah itu segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang tersembunyi maupun yang nampak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ilmu, harta, pekerjaan, jabatan, keluarga, tenaga, hingga waktu dapat bernilai ibadah apabila dijalankan dengan niat yang benar dan cara yang diridhai Allah.
Dengan demikian, rezeki yang diperoleh tidak hanya menenangkan secara materi, tetapi juga menenteramkan jiwa.
Menutup kajian, Ustad Fatih Karim mengingatkan pentingnya kebermanfaatan hidup bagi sesama.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia,” (HR. Ahmad). [Din]





