MILAD ‘Aisyiyah dan Hari Anak Nasional: Menyiapkan Generasi Radhiyyan. Anak bukan sekadar hadir untuk memenuhi kebahagiaan sebuah keluarga. Mereka adalah amanah yang harus dipersiapkan menjadi generasi penerus, bukan hanya penerus garis keturunan, melainkan penerus nilai, perjuangan, dan peradaban.
Pesan itulah yang mengemuka dalam ceramah Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., pada resepsi Milad ‘Aisyiyah Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sragen yang dirangkai dengan Peringatan Hari Anak Nasional.
Di hadapan peserta, ia mengajak seluruh keluarga besar ‘Aisyiyah memaknai kehadiran anak sebagai amanah besar yang harus dipersiapkan sejak sebelum kelahirannya hingga tumbuh menjadi pribadi yang membawa kemaslahatan bagi sesama.
Menurutnya, inspirasi itu dapat ditemukan dalam kisah Nabi Zakariya yang diabadikan Allah dalam Surah Maryam ayat 1-13.
Nabi Zakariya tidak sekadar memohon dikaruniai seorang anak. Di usia senja, beliau memanjatkan doa agar Allah menganugerahkan seorang penerus yang mampu melanjutkan risalah dan perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran.
Doa itu dikabulkan melalui kelahiran Nabi Yahya. Sosok yang sejak usia dini dianugerahi hikmah, diperintahkan untuk berpegang teguh pada kitab Allah, serta tumbuh menjadi pribadi yang diridhai Allah (radhiyyan).
Milad ‘Aisyiyah dan Hari Anak Nasional: Menyiapkan Generasi Radhiyyan
Bagi Dr. Eny, kisah tersebut bukan sekadar sejarah para nabi, melainkan peta jalan pendidikan keluarga yang tetap relevan hingga hari ini.
“Memiliki anak bukan sekadar punya keturunan, tetapi melahirkan generasi rabban radhiyyan, generasi yang diridai Allah, beriman, berakhlak, dan menjadi penerus kebaikan.,” ungkapnya.
Karena itu, proses mendidik anak tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik.
Anak membutuhkan keteladanan, kasih sayang, pembiasaan, penguatan karakter, serta lingkungan yang menumbuhkan kecintaan kepada ilmu dan nilai-nilai Islam.
Baca juga: Milad ke-109 Aisyiyah Sragen Luncurkan GACA, Perkuat Gerakan Perlindungan Anak
Dalam pemaparannya, Dr. Eny menegaskan bahwa Surah Maryam ayat 1-13 menyimpan banyak pelajaran tentang pembangunan generasi.
Anak dipandang sebagai karunia sekaligus amanah. Orang tua dituntut memiliki visi yang jelas dalam mendidik anak sebagai penerus perjuangan.
Pendidikan dimulai dengan doa, dilanjutkan dengan proses pengasuhan yang konsisten, hingga melahirkan generasi yang diridhai Allah.
Ia juga menyoroti pentingnya budaya literasi. Ketika Allah memerintahkan Nabi Yahya agar berpegang teguh pada kitab-Nya, pesan itu bukan hanya mengajarkan membaca teks wahyu, tetapi juga membangun tradisi berpikir.
“Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan membaca ilmu pengetahuan, membaca realitas sosial, serta membaca fenomena alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan kebesaran Allah,” paparnya.
Di tengah derasnya perubahan zaman, anak-anak juga perlu dipersiapkan menjadi pribadi yang kuat, bukan hanya secara intelektual, tetapi juga secara mental, spiritual, dan moral.
Hikmah yang Allah anugerahkan kepada Nabi Yahya sejak usia kanak-kanak menjadi inspirasi bahwa karakter mulia dapat ditanamkan sejak dini melalui pendidikan yang tepat.
“Dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak, peduli, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Semangat membangun generasi itulah yang, menurut Dr. Eny, telah menjadi denyut gerakan ‘Aisyiyah selama lebih dari satu abad.
Setahap demi setahap, selangkah demi selangkah, organisasi perempuan Muhammadiyah ini menghadirkan dakwah kemanusiaan melalui gerakan amar makruf nahi mungkar yang diwujudkan dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pembinaan keluarga, hingga berbagai pelayanan sosial.
Baginya, dakwah bukan hanya disampaikan melalui mimbar dan ceramah, tetapi diwujudkan dalam karya nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Sekolah, taman kanak-kanak, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagai program pemberdayaan menjadi bukti bahwa dakwah dapat hadir dalam bentuk pelayanan dan pengabdian.
Momentum Milad ‘Aisyiyah yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional pun menjadi pengingat bahwa ikhtiar membangun generasi tidak boleh berhenti.
Tantangan zaman terus berubah, namun cita-cita tetap sama, yakni melahirkan generasi radhiyyan, generasi yang beriman, mencintai ilmu, memiliki budaya literasi, kuat mental dan spiritual, berakhlak mulia, serta siap melanjutkan perjuangan mewujudkan masyarakat yang berkemajuan.
Pada akhirnya, anak bukan sekadar pewaris nama keluarga. Mereka adalah pewaris nilai, pewaris perjuangan, sekaligus pewaris peradaban.
Sebagaimana Nabi Zakariya memanjatkan doa agar dikaruniai penerus yang diridai Allah, demikian pula setiap keluarga semestinya menanamkan harapan yang sama.
Inilah pesan yang terus dihidupkan oleh ‘Aisyiyah: membangun generasi radhiyyan – generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta menghadirkan kemanfaatan bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.[ind]




