DUA ratus lebih anak kelas 1 hingga 6 SDIT Khairu Ummah Sumedang duduk menonton layar hari ini (11/9). Mereka menonton Anna, tokoh dalam video storytelling yang pergi ke supermarket bersama ibunya. Di rak-rak supermarket itu, Anna dihadapkan pilihan Oreo atau Goreoreo? Aqua atau Aquviva?
Anak-anak itu langsung ribut. Tangan-tangan kecil terangkat. Mereka menebak mana yang boleh dibeli dan mana yang tidak. Sebagian mereka baru mengetahui beberapa merek lain ternyata masuk daftar produk yang berafiliasi mendukung Israel.
Baca Juga: Dari Suara Pelanggan ke Inovasi, ParagonCorp Kembangkan Produk Berbasis Consumer Insight
Tak Ada Uang, Anak SD Berikan Cincin untuk Palestina
Tontonan ini tak disediakan guru melainkan oleh pemuda pemudi di SMART 171. Mereka menggelar Goes to School di SDIT Khairu Ummah, Jumat (11/9/2026), pukul 08.30–09.30. Satu jam. Tapi cukup untuk mengubah cara dua ratus anak memandang rak supermarket.
Fidela Rudiana kemudian membuka dengan pertanyaan yang bisa dijawab anak-anak ini, “apa yang bisa kita lakukan?”
“Apa saja yang bisa kita lakukan untuk membantu saudara kita di Palestina selain berdonasi dan berdoa? Yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah boikot,” ujar Fidela. “Boikot itu kita tidak membeli produk-produk yang memberikan dukungan terhadap penjajah zionis Israel.”
Anak-anak antusias di sesi berikutnya. Sebab mereka bisa mengenakan rompi dan helm jurnalis. Lantas berpura-pura jadi jurnalis sungguhan yang mencoba melaporkan kejadian yang sedang terjadi di Gaza. Anak SD, berlagak reporter, menyampaikan kabar dari tanah yang belum pernah mereka injak tapi sudah mereka pedulikan.
Di antara ratusan anak itu, ada satu momen yang tidak ada dalam rundown. Seorang siswi menghampiri kakak panitia, mengulurkan cincin, lainnya memberikan stiker. Ia ingin menitipkannya untuk anak Palestina.
“Itu lucu banget sih, mereka sangat pure ya. Karena ga punya uang jajan, mereka berikan cincin mainan dan stiker. Salut sih, rasa ingin berbaginya bagus!” Kata Tahira, ketua pelaksana yang menerima titipan anak SD itu.
Salman, salah satu peserta, menyimpulkan hari itu dengan kalimat pendek yang jujur: “Hari ini seru, dapet pelajaran tentang boikot.”
Tahira melihat setiap kunjungan ke sekolah sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya tidak akan langsung terasa. “Ketika berkunjung ke sekolah-sekolah, ke TK, SD, SMP, yang terbayang adalah anak-anak ini adalah calon-calon penerus yang akan sama-sama menggaungkan pembelaan terhadap Palestina. Nanti ketika generasi sudah berganti, merekalah yang akan melanjutkan apa yang diperjuangkan oleh kakak-kakak yang sekarang.”
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Hari ini Israel masih mengontrol 70 persen wilayah Gaza dan masih melakukan serangan hampir setiap hari meski gencatan senjata berlaku. Di Khairu Ummah, dua ratus anak baru saja belajar bahwa membela Palestina bisa dimulai dari pilihan cemilan. [DW]





