KISTA sering menjadi salah satu masalah kesehatan yang membuat perempuan merasa khawatir. Terlebih ketika benjolan atau kista ditemukan di organ reproduksi seperti ovarium. Kondisi ini memang lebih dekat dengan sistem reproduksi perempuan karena ovarium merupakan organ yang secara alami mengalami perubahan hormon dan ovulasi setiap bulan. Namun, anggapan bahwa semua kista disebabkan oleh makanan atau gaya hidup tertentu juga perlu diluruskan.
Dalam beberapa kajian kesehatan, dr. Zaidul Akbar menjelaskan kista dari sudut pandang pola hidup dan keseimbangan tubuh. Ia mengaitkan masalah kista dengan ketidakseimbangan hormon, termasuk kondisi yang ia sebut sebagai over estrogen. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dilihat bersama dengan pola makan dan kesehatan pencernaan.
Baca Juga: 5 Tempat Camping Keluarga di Bogor yang Sejuk, Seru, dan Ramah di Kantong
Mengapa Kista Banyak Dibahas pada Wanita? Ini Penjelasan dr. Zaidul Akbar dan Fakta Medisnya
Hormon menjadi salah satu perhatian
Menurut dr. Zaidul Akbar, keseimbangan hormon merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Ia menyarankan perempuan lebih bijak dalam memilih makanan dan mengurangi konsumsi makanan yang menurutnya berpotensi mengganggu keseimbangan hormon. Salah satu yang disoroti adalah konsumsi produk hewani yang dalam proses produksinya menggunakan hormon atau bahan tertentu.
Ia juga mendorong penerapan clean eating, yakni lebih banyak memilih makanan alami dan mengurangi makanan ultra-proses, makanan tinggi gula, tepung olahan, serta lemak yang berlebihan. Dalam pendekatan yang disampaikannya, menjaga pola makan dianggap sebagai bagian dari usaha memperbaiki kondisi tubuh secara keseluruhan.
Namun, penting untuk membedakan antara pendapat atau pendekatan kesehatan seseorang dengan bukti medis yang sudah mapan. Tidak semua kista memiliki penyebab yang sama.
Mengapa kista ovarium bisa terjadi?
Menurut informasi Kementerian Kesehatan RI, kista ovarium merupakan kantong berisi cairan yang terbentuk pada ovarium. Kista fungsional dapat terjadi pada perempuan usia reproduktif dan berkaitan dengan proses ovulasi. Sebagian besar kista ovarium bersifat jinak dan bahkan dapat tidak menimbulkan gejala.
Kondisi lain yang perlu dibedakan adalah PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Pada PCOS, terdapat gangguan hormonal dan ovulasi yang dapat disertai gambaran banyak folikel kecil pada ovarium. Kementerian Kesehatan menyebut PCOS sebagai salah satu gangguan hormonal yang cukup umum pada perempuan usia reproduktif.
Artinya, perempuan lebih sering berhadapan dengan kista tertentu bukan semata-mata karena pola makan, tetapi juga karena mereka memiliki organ reproduksi yang mengalami siklus hormonal dan ovulasi secara alami.
Bukan berarti semua kista akibat makanan
Inilah bagian yang penting untuk dipahami. Klaim bahwa makanan tertentu secara langsung menyebabkan kista tidak bisa diberlakukan untuk semua jenis kista. Bahkan untuk kista ovarium, penyebabnya dapat berbeda-beda tergantung jenis dan kondisi pasien.
Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa kista Bartholin, misalnya, terjadi karena tersumbatnya saluran kelenjar Bartholin. Penyumbatan tersebut dapat berkaitan dengan luka, iritasi berulang, operasi, maupun infeksi tertentu. Karena itu, istilah “kista” sendiri tidak menunjuk pada satu penyakit saja.
Lalu apa yang sebaiknya dilakukan?
Pendekatan dr. Zaidul Akbar mengenai perbaikan pola makan dapat dijadikan motivasi untuk menjalani gaya hidup lebih sehat, tetapi tidak sebaiknya menggantikan pemeriksaan dan pengobatan medis. Jika terdapat kista ovarium, dokter dapat menentukan jenis dan ukurannya melalui pemeriksaan, termasuk USG. Kementerian Kesehatan menyebut USG sebagai salah satu pemeriksaan utama untuk mendeteksi kista ovarium.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Jadi, menjaga pola makan, berat badan, aktivitas fisik, dan kesehatan secara keseluruhan memang penting. Namun jika muncul nyeri panggul, menstruasi tidak teratur, perut membesar, atau keluhan lain yang menetap, jangan hanya mengandalkan perubahan makanan. Pemeriksaan kepada dokter kandungan tetap diperlukan agar penyebabnya diketahui dengan tepat. [DW]


