TINGKAT pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama dilaporkan sebesar 5,61 persen. Wow, sebuah tingkat pertumbuhan yang sangat luar biasa.
Angka ini secara umum mengalahkan pertumbuhan ekonomi Singapura yang hanya berkisar 4 persen. Mengalahkan AS yang hanya 2 persen. Bahkan mengalahkan Cina yang mentok di angka 5 persen, tidak pakai koma.
Namun angka pertumbuhan ini rasanya tidak seindah fakta di lapangan. Misalnya, angka penjualan mobil turun sebesar 7 persen, angka penjualan hewan kurban dikabarkan turun 30 persen, kian maraknya PHK, naiknya tingkat pengangguran Gen-Z yang dilaporkan mencapai 15 persen.
Dan, yang paling mencolok dari kontradiksi laporan pertumbuhan ekonomi itu adalah anjloknya nilai rupiah terhadap dolar Amerika. Pada tanggal 11 Mei ini, nilai 1 dolar AS sebesar 17.415 rupiah.
Data-data di lapangan yang ‘horor’ itu akan memunculkan kecemasan rakyat yang luar biasa. Kenaikan harga BBM non subsidi yang tergolong besar juga sudah dirasakan banyak kalangan, antara lain kaum nelayan di sejumlah daerah.
Daya beli masyarakat kian menurun, dan terus berkurangnya golongan menengah. Bukan karena mereka naik ke level atas, tapi menurun ke level di bawahnya.
Rakyat saat ini membutuhkan solusi dari masalah yang di luar kemampuan mereka saat ini: tentang kenaikan harga, maraknya PHK, turunnya daya beli, dan sebagainya.
Karena itu, rakyat sangat membutuhkan jalan keluar yang ditunjukkan pemangku kekuasaan. Dan hal itu dimulai dari kejujuran dan pengakuan keadaan sebenarnya ekonomi bangsa saat ini. Bukan semacam manipulasi yang kian memunculkan kecemasan. [Mh]





