KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) berencana menempatkan komodo di iZoo, kebun binatang reptil dan amfibi terbesar di Jepang.
Langkah ini merupakan bagian dari skema breeding loan, yaitu kerja sama konservasi antara Indonesia dan Jepang untuk pengembangbiakan satwa liar dengan dukungan pemerintah kedua negara.
Sebagai timbal balik, Jepang akan mengirimkan satwa eksotis yang populer di kalangan publik, seperti jerapah dan panda merah, ke Indonesia.
Namun, rencana pertukaran ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai manfaat program breeding loan terhadap upaya konservasi, khususnya bagi komodo. Program breeding loan umumnya lebih berfokus pada peningkatan populasi di luar habitat asli (ex-situ).
Baca juga: Pemerintah Indonesia dan Jepang Jalin Kerja Sama pada Program Breeding Loan Komodo
Kemenhut Berencana Tempatkan Komodo di iZoo Jepang
Namun, efektivitasnya terhadap konservasi di alam liar masih menjadi tanda tanya besar. Pasalnya, hasil pengembangbiakan tidak selalu bisa dilepasliarkan kembali ke habitat asli. Akibatnya, kontribusi program ini terhadap keberlanjutan populasi liar dinilai masih terbatas.
Selain itu, aspek ilmiah juga menjadi perhatian penting, terutama terkait risiko genetika, kesehatan, dan perilaku satwa.
Komodo diketahui memiliki status perlindungan tertinggi dalam CITES Appendix I, yang menandakan satwa ini sangat dilindungi dan bernilai tinggi sebagai plasma nutfah Indonesia.
Meski demikian, diingatkan bahwa pemindahan dan pengembangbiakan di luar habitat asli menyimpan risiko ilmiah, terutama karena keterbatasan data genetik komodo yang hingga kini masih minim.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang dalam pengelolaan populasi. Dari sisi etika, pemanfaatan satwa dengan status Appendix I harus melalui persetujuan presiden, sesuai regulasi nasional.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sementara itu, terkait rencana masuknya jerapah dan panda merah ke Indonesia, Slamet menilai tidak akan menimbulkan dampak ekologis yang signifikan.
Hal ini karena satwa tersebut ditempatkan di lingkungan tertutup seperti kebun binatang atau taman safari.
Meski demikian, keberadaan satwa introduksi tersebut juga tidak memberikan kontribusi terhadap konservasi nasional.
Sementara itu, kerja sama internasional seperti breeding loan memiliki tujuan yang berbeda dan lebih bersifat pemanfaatan satwa dalam kerangka kesepakatan antarnegara. [Din]





