FORUM Muslimah Indonesia (FORMASI) dan Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsa (KPIPA) kembali menggalang bantuan bagi korban banjir Sumatera. Kali ini kegiatan bertajuk “Bersama Pulihkan Sumatera” digelar secara daring pada Ahad (11/1) dan diikuti ratusan donatur.
Ketua FORMASI dan KPIPA, Nurjanah Hulwani, mengatakan bahwa musibah adalah ujian bagi yang tertimpa dan bagi seluruh umat yang menyaksikannya.
“Yang diukur bukan hanya kesabaran mereka yang diuji, tetapi juga kepekaan sosial mereka yang hidup di sekitarnya; apakah memilih diam atau hadir memberi bantuan. Membantu Sumatera adalah membantu keluarga kita. Terlebih lagi mendekati puasa. Kisah banjir ini membawa pesan agar kita selalu bersyukur dan berbagi,” ucapnya.
Warga terdampak banjir dan longsor asal Sumatera Barat, Reza Mardianis, menceritakan kondisi saat terjadi longsor yang mengakibatkan anggota keluarga meninggal dunia.
“Longsor pertama terjadi tanggal 27 November 2025 menyebabkan jalan tertutup dan listrik mati. Hari Sabtu tanggal 29 November, daerah menuju rumah kami terendam banjir hingga separuh tinggi rumah. Beberapa rumah hanyut. Pukul 18.50 terdengar seperti suara gempa. Kami menyaksikan 4 rumah dan 1 musolla rata dengan tanah. Tanah dan pohon berjalan. Kakak, ponakan, dan ipar saya tak bisa diselamatkan,” kenangnya sambil meneteskan air mata.
Mukhlis Rais, warga terdampak banjir Aceh menyebut banjir di wilayahnya disebabkan hujan yang sangat deras selama 3 hari 3 malam sejak 23 November. Di tempat paling rendah di Aceh Tamiang, air rata-rata mencapai ketinggian 4 meter.
“Sudah 46 hari. Sampai sekarang masyarakat Aceh Tamiang masih berjibaku mengeluarkan lumpur yang tingginya mencapai pinggang. Harus menggunakan excavator untuk membersihkan lumpur yang sudah mengeras. Tidak bisa dibersihkan secara manual. Ibu-ibu masih membantu di dapur umum. Seorang pengurus Salimah jatuh dari motor ketika menyalurkan bantuan di Aceh Tamiang dan meninggal beberapa hari yang lalu,” kata Mukhlis.
Khairul Nisya, warga terdampak banjir Sumatera Utara, menceritakan kerugian material dan psikologis yang dialami korban. “Namun, para pengungsi saling menguatkan dan memberikan semangat. Semua ini adalah ujian yang pasti ada ganjaran jika kita tabah menjalaninya. Sebagai orang beriman, selalu berprasangka baik kepada Allah bahwa tidak ada yang sia-sia. Yakinlah Allah pasti akan menolong kita,” pesannya.
Warga berharap, bencana ini menjadi pelajaran bagi semua orang untuk menjaga keseimbangan alam. Bantuan dari pemerintah dan relawan sangat membantu mereka untuk pulih kembali. Huntap dan huntara sangat dibutuhkan untuk mereka pulang dan menjalani kehidupan normal.
Wakil Ketua FORMASI, Norita, mengajak masyarakat terus memberi bantuan karena hingga saat ini warga terdampak banjir dan longsor Sumatera masih membutuhkan uluran tangan para relawan.
“Kami mengetuk hati semua orang untuk membantu saudara kita dengan menyisihkan rezekinya berupa dana, Al-Qur’an, sarung, mukena, baju laki-laki dan perempuan, baju anak laki-laki dan perempuan, jilbab instan, pakaian dalam, kaus kaki, kelambu, dan handuk. Semoga sedikit uluran tangan kita menjadi secercah cahaya bagi mereka melaksanakan ibadah Ramadan,” tuturnya.
Menurut data tempo dan BBCNews Indonesia pada 6 Januari, banjir dan longsor Sumatera mengakibatkan korban tewas sebanyak 1.178 jiwa, korban cedera lebih dari 7.000 jiwa, korban hilang 147 jiwa, kerugian harta benda Rp68,6T, pengungsi lebih dari 1 juta jiwa, dan total terdampak lebih dari 3,3 juta jiwa. Banyaknya korban jiwa pada bencana ini menjadikannya sebagai bencana alam paling mematikan di Indonesia.
“FORMASI hadir sebagai lembaga independen di Indonesia yang mewadahi para muslimah, praktisi dan akademisi yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. FORMASI senantiasa bersama dalam misi kemanusiaan baik lingkup nasional maupun internasional.” pungkas Norita. [Mh/KPIPA]





