KEBIASAAN makan sambil menonton sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, terutama di tengah perkembangan teknologi dan hiburan digital. Banyak orang memilih menikmati makanan sembari menonton televisi, film, atau video melalui ponsel. Aktivitas ini sering dianggap menyenangkan karena dapat menghilangkan rasa bosan dan membuat waktu makan terasa lebih santai. Namun, kebiasaan yang terlihat sederhana tersebut ternyata memiliki kaitan dengan pola makan dan cara tubuh merespons asupan makanan.
Tanpa disadari, perhatian yang terbagi antara makanan dan tayangan dapat membuat seseorang kurang menyadari jumlah makanan yang dikonsumsi. Bahkan, sebagian orang baru menyadari bahwa dirinya sudah makan terlalu banyak setelah makanan habis. Lantas, apakah kebiasaan makan sambil menonton benar-benar dapat mengganggu sistem pencernaan? Bagaimana Islam memandang kebiasaan makan yang dilakukan tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh?
Hubungan antara Perhatian dan Proses Pencernaan
Sistem pencernaan bekerja melalui serangkaian proses yang dimulai sejak makanan masuk ke dalam mulut. Makanan perlu dikunyah agar menjadi lebih halus dan mudah ditelan. Pada tahap ini, air liur membantu melembapkan makanan sekaligus mengandung enzim yang berperan dalam proses awal pemecahan karbohidrat.
Ketika seseorang terlalu fokus pada tayangan, perhatian terhadap aktivitas makan dapat berkurang. Akibatnya, proses mengunyah mungkin dilakukan secara terburu-buru atau seseorang tidak benar-benar memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Padahal, mengunyah merupakan bagian penting dari proses pencernaan sebelum makanan memasuki lambung.
Meskipun demikian, makan sambil menonton tidak secara langsung merusak organ pencernaan. Pengaruhnya lebih berkaitan dengan perilaku makan yang dapat berubah akibat perhatian yang teralihkan.
Mengapa Makan Sambil Menonton Bisa Memicu Konsumsi Berlebihan?
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari kebiasaan ini adalah berkurangnya kesadaran terhadap sinyal lapar dan kenyang. Ketika perhatian lebih banyak tertuju pada layar, seseorang bisa saja terus makan meskipun tubuh sebenarnya sudah mendapatkan asupan yang cukup.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang mengonsumsi makanan melebihi kebutuhan tubuh. Jika terjadi secara berulang, kebiasaan makan berlebihan dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan menimbulkan ketidaknyamanan pada saluran pencernaan.
Lambung yang menerima makanan dalam jumlah terlalu banyak dapat menimbulkan sensasi penuh, begah, hingga kembung. Pada orang yang memiliki kecenderungan mengalami refluks asam lambung, makan dalam porsi berlebihan juga dapat memperburuk keluhan, seperti rasa panas di dada atau asam yang naik ke kerongkongan.
Baca Juga: Menonton Televisi Lebih dari 5 Jam Memicu Emboli Paru
Apakah Kebiasaan Makan Sambil Menonton Bisa Mengganggu Sistem Pencernaan?
Pengaruh terhadap Kenyamanan Lambung
Selain jumlah makanan, kecepatan makan juga menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan kenyamanan pencernaan. Ketika seseorang makan sambil menonton, aktivitas mengunyah terkadang menjadi kurang teratur. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik dapat membuat kerja lambung dalam mengolah makanan menjadi lebih berat.
Namun, bukan berarti setiap orang yang makan sambil menonton pasti mengalami gangguan lambung. Respons tubuh terhadap makanan dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi kesehatan, jenis makanan, jumlah asupan, dan kebiasaan setelah makan.
Kebiasaan langsung berbaring setelah makan, misalnya, juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya refluks asam lambung. Oleh karena itu, gangguan pencernaan tidak seharusnya dikaitkan hanya dengan aktivitas menonton, melainkan perlu dilihat dari keseluruhan pola makan dan gaya hidup seseorang.
Pandangan Islam tentang Kebiasaan Makan yang Berlebihan
Dalam Islam, aktivitas makan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki aturan dan adab. Salah satu ajaran yang ditekankan adalah menjaga keseimbangan serta tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Ayat tersebut memberikan pengingat bahwa manusia diperbolehkan menikmati makanan dan minuman, tetapi tetap harus memperhatikan batas kewajaran. Prinsip ini relevan dengan kebiasaan makan sambil menonton, terutama ketika seseorang tidak lagi memperhatikan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Rasulullah SAW juga menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan dalam makan melalui hadis riwayat Ibnu Majah nomor 3349. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa manusia tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Apabila harus makan lebih banyak, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernapas.
Ajaran tersebut menunjukkan bahwa menjaga pola makan merupakan bagian dari perhatian Islam terhadap keseimbangan hidup manusia. Makan bukan sekadar mengikuti keinginan, melainkan juga mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan tubuh.
Kesadaran Saat Makan sebagai Bagian dari Gaya Hidup Sehat
Kebiasaan makan sambil menonton pada dasarnya bukan sesuatu yang secara mutlak dilarang dari sisi kesehatan. Namun, aktivitas tersebut dapat menjadi persoalan ketika membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap jumlah makanan, kecepatan mengunyah, dan rasa kenyang.
Menikmati makanan dengan penuh perhatian merupakan bagian dari kebiasaan yang mendukung pola makan lebih teratur. Hal ini juga sejalan dengan nilai kesederhanaan dalam Islam, yaitu tidak menjadikan makan sebagai aktivitas untuk memenuhi keinginan secara berlebihan.
Dengan memahami hubungan antara perhatian, perilaku makan, dan proses pencernaan, seseorang dapat melihat bahwa kebiasaan sehari-hari memiliki pengaruh terhadap kenyamanan tubuh. Bahkan, aktivitas sederhana seperti makan sambil menonton dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangun gaya hidup sehat. [Ssh]





