LEMARI penuh tetapi selalu merasa tidak punya baju mungkin menjadi pengalaman yang cukup akrab bagi sebagian orang. Setiap kali membuka lemari, berbagai model pakaian sudah tersusun rapi. Namun, ketika hendak menghadiri acara atau sekadar bepergian, muncul perasaan tidak memiliki pakaian yang cocok untuk dikenakan.
Akhirnya, membeli baju baru dianggap sebagai solusi. Terlebih, tren fashion yang terus berganti, diskon di platform belanja online, hingga promosi dari influencer membuat seseorang semakin mudah tergoda untuk menambah koleksi pakaian. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat mengarah pada fashion overconsumption atau konsumsi fashion secara berlebihan.
Lantas, mengapa seseorang terus membeli pakaian meskipun koleksi di rumah sudah menumpuk?
Mengenal Fashion Overconsumption dalam Kehidupan Sehari-hari
Fashion overconsumption merupakan perilaku mengonsumsi produk fashion secara berlebihan, baik dari segi jumlah maupun frekuensi pembelian. Kebiasaan ini sering berkaitan dengan tren fast fashion, yaitu industri pakaian yang memproduksi koleksi baru dalam waktu singkat dengan harga relatif terjangkau.
Seseorang mungkin membeli pakaian bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tertarik dengan model terbaru, takut ketinggalan tren, atau sekadar ingin mendapatkan kepuasan sesaat.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan melalui media sosial. Konten outfit of the day (OOTD), rekomendasi pakaian, hingga tren berpakaian tertentu dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam berbelanja.
Akibatnya, pakaian yang sebenarnya masih layak digunakan sering dianggap membosankan hanya karena sudah tidak mengikuti tren terbaru.
Mengapa Lemari Penuh Tidak Membuat Kita Merasa Cukup?
Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang terus membeli pakaian meskipun lemari sudah penuh.
Pertama, munculnya keinginan untuk selalu mengikuti tren. Ketika melihat orang lain mengenakan pakaian terbaru, seseorang bisa merasa perlu memiliki barang serupa agar tidak tertinggal.
Kedua, kebiasaan belanja impulsif. Promo tanggal kembar, potongan harga, dan gratis ongkir sering membuat seseorang membeli barang tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya.
Ketiga, pakaian baru terkadang memberikan kepuasan emosional sementara. Aktivitas berbelanja dapat menjadi bentuk hiburan ketika sedang bosan atau mengalami tekanan. Namun, rasa senang tersebut tidak selalu bertahan lama sehingga keinginan membeli barang lain kembali muncul.
Kondisi ini membuat seseorang memiliki banyak pakaian, tetapi tetap merasa tidak memiliki pilihan yang cukup. Padahal, persoalannya bukan terletak pada jumlah pakaian, melainkan pola konsumsi yang belum terkendali.
Dampak Fashion Overconsumption terhadap Lingkungan
Kebiasaan membeli pakaian secara berlebihan tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan, tetapi juga lingkungan. Industri tekstil menghasilkan limbah dalam jumlah besar, mulai dari sisa produksi hingga pakaian yang sudah tidak digunakan.
Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) pada Oktober 2025 menjelaskan bahwa model bisnis industri fashion yang berorientasi pada produk baru dan penggunaan singkat telah mendorong produksi berlebihan, konsumsi berlebihan, serta peningkatan limbah tekstil. Sebagian limbah tersebut akhirnya dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Artinya, keputusan membeli satu pakaian baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan turut berkontribusi terhadap pola konsumsi yang kurang berkelanjutan. Jika dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus, dampaknya tentu semakin besar.
Baca Juga: Cara Menyimpan Hijab di Lemari agar Tidak Mudah Kusut
Lemari Penuh tetapi Selalu Merasa Tidak Punya Baju, Apakah Kita Terjebak dalam Fashion Overconsumption?
Islam Mengajarkan Berpakaian Indah Tanpa Berlebihan
Islam tidak melarang umatnya mengenakan pakaian yang bagus, rapi, dan indah. Namun, keinginan untuk tampil menarik sebaiknya tidak membuat seseorang terjebak dalam perilaku konsumtif.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Meskipun ayat tersebut menyebutkan makan dan minum, prinsip larangan berlebihan juga menjadi pengingat dalam mengelola berbagai kebutuhan hidup, termasuk membeli pakaian.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Ibnu Majah:
“Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.”
Hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash tersebut menunjukkan bahwa berpakaian dengan baik diperbolehkan selama tidak disertai sikap berlebihan dan kesombongan.
Dengan demikian, memiliki pakaian yang bagus bukanlah masalah. Hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengendalikan keinginan agar tidak membeli sesuatu hanya demi mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan orang lain.
Cara Menghindari Fashion Overconsumption
Untuk mengurangi kebiasaan konsumtif, ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Evaluasi isi lemari. Periksa kembali pakaian yang masih layak digunakan sebelum memutuskan membeli koleksi baru.
Terapkan konsep capsule wardrobe. Pilih pakaian dengan warna dan model yang mudah dipadukan sehingga bisa menghasilkan berbagai kombinasi outfit.
Hindari belanja impulsif. Berikan jeda sebelum membeli barang yang menarik perhatian, terutama ketika sedang ada promo.
Utamakan kualitas daripada kuantitas. Pilih pakaian yang nyaman, tahan lama, dan sesuai kebutuhan.
Manfaatkan kembali pakaian lama. Coba padukan model pakaian berbeda atau lakukan modifikasi agar koleksi lama terasa lebih menarik.
Belajar Merasa Cukup di Tengah Tren Fashion
Lemari yang penuh tidak selalu menunjukkan bahwa kebutuhan berpakaian sudah terpenuhi. Terkadang, keinginan untuk terus membeli muncul karena kita terlalu sering membandingkan diri dengan gaya hidup orang lain.
Melalui prinsip kesederhanaan dalam Islam, kita diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan harta dan memenuhi kebutuhan. Tidak harus selalu memiliki pakaian terbaru untuk tampil menarik. Sebab, penampilan yang baik juga bisa dibangun dari kemampuan merawat, memadukan, dan menghargai apa yang sudah dimiliki.
Pada akhirnya, menghindari fashion overconsumption bukan berarti berhenti membeli pakaian, melainkan belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga kondisi keuangan, tetapi juga ikut mengurangi limbah fashion dan menerapkan gaya hidup yang lebih bertanggung jawab. [Ssh]





