ADA ironi yang sering terjadi dalam kehidupan. Kita begitu cemas ketika dompet mulai menipis, pekerjaan terasa tidak pasti, atau usaha belum membuahkan hasil. Malam menjadi sulit tidur karena memikirkan kebutuhan dunia. Namun, di saat yang sama, hati justru terasa tenang ketika shalat ditunda, Al-Qur’an jarang dibaca, dan hubungan dengan Allah mulai merenggang.
Seolah-olah kita lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan akhirat.
Padahal, uang yang kita kejar bisa habis. Jabatan yang kita banggakan bisa berganti. Orang-orang yang kita pertahankan mati-matian pun suatu saat dapat pergi. Semua yang ada di dunia sifatnya sementara. Hanya Allah yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan ketika seluruh manusia berpaling.
Baca Juga: Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Melakukan Donor Darah
Saat Dunia Lebih Kita Takuti daripada Akhirat
Sering kali kita rela melakukan apa saja agar diterima oleh manusia. Kita menjaga citra, takut mengecewakan orang lain, dan berusaha memenuhi harapan banyak orang. Tetapi mengapa rasa takut itu tidak sebesar rasa takut ketika kita lalai memenuhi panggilan shalat? Mengapa kita begitu khawatir dengan penilaian manusia, tetapi kurang gelisah saat hati semakin jauh dari Rabb yang menciptakan kita?
Sesungguhnya, kebutuhan terbesar manusia bukanlah harta, melainkan petunjuk Allah. Sebab harta tanpa keberkahan hanya akan menghadirkan kegelisahan. Pertemanan tanpa ridha Allah tidak selalu membawa kebahagiaan. Bahkan kesuksesan dunia pun terasa kosong jika hati kehilangan kedekatan dengan-Nya.
Allah tidak meminta kita meninggalkan dunia. Islam justru mengajarkan untuk bekerja, mencari rezeki yang halal, dan menjadi pribadi yang bermanfaat. Namun, jangan sampai dunia menempati posisi yang seharusnya menjadi milik Allah di dalam hati. Jadikan dunia di tangan, bukan di hati.
Mulailah mengevaluasi diri dengan pertanyaan sederhana. Ketika azan berkumandang, mana yang lebih cepat kita sambut: panggilan Allah atau notifikasi pekerjaan? Ketika memiliki waktu luang, apakah lebih sering membuka media sosial daripada membuka mushaf Al-Qur’an? Jawaban dari pertanyaan itu bisa menjadi cermin tentang apa yang paling kita prioritaskan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Selama napas masih ada, pintu untuk kembali selalu terbuka. Perbaiki shalat, perbanyak istigfar, dan mohonlah agar Allah menjadikan hati kita lebih mencintai akhirat tanpa melupakan tanggung jawab di dunia. Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukan sekadar uang, pujian, atau pengakuan manusia. Yang paling kita butuhkan adalah rahmat dan pertolongan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. [DW]





