SETIAP orang pasti pernah berada di titik ketika impian terasa begitu dekat. Rencana telah disusun dengan matang, usaha sudah dilakukan semaksimal mungkin, dan harapan seolah tinggal menunggu waktu untuk menjadi kenyataan. Namun, tanpa diduga, semuanya berubah. Kesempatan yang sudah di depan mata menghilang, jalan yang tampak terbuka justru tertutup, atau seseorang yang kita harapkan menemani masa depan memilih arah hidup yang berbeda.
Di saat seperti itu, hati mudah dipenuhi pertanyaan, “Mengapa bukan aku?” Terlebih ketika melihat orang lain melangkah lebih dahulu. Ada yang berhasil meraih pekerjaan impian, melanjutkan pendidikan, menikah, membeli rumah, atau mewujudkan cita-cita yang selama ini kita dambakan. Sementara kita masih berjuang di tempat yang sama, menunggu jawaban yang belum juga datang.
Baca Juga: Semua Punya Waktu dan Takdir Terbaik
Ketika Takdir Belum Menjawab Keinginan
Perasaan sedih dan kecewa adalah sesuatu yang manusiawi. Islam tidak melarang seseorang merasakan kesedihan. Bahkan para nabi pun pernah bersedih ketika menghadapi ujian. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kesedihan berubah menjadi prasangka buruk kepada Allah. Sebab, tidak semua yang tertunda berarti ditolak, dan tidak semua yang hilang berarti sebuah kerugian.
Sering kali kita terlalu cepat menyebut sebuah keadaan sebagai kegagalan. Padahal, kita hanya melihat satu potongan kecil dari perjalanan hidup. Allah melihat keseluruhan kisah yang belum mampu kita pahami. Bisa jadi apa yang kita inginkan hari ini justru akan membawa mudarat di masa depan, sedangkan sesuatu yang terasa menyakitkan sekarang menjadi pintu menuju kebaikan yang lebih besar.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas. Kita hanya mengetahui apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus. Karena itu, seorang mukmin diajak untuk tetap berikhtiar tanpa kehilangan tawakal. Usaha adalah kewajiban, sementara hasil adalah hak Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Mungkin hari ini giliran orang lain untuk bersyukur atas apa yang mereka capai. Esok atau lusa, bisa jadi Allah menyiapkan giliran kita dengan cara yang lebih indah dari yang pernah dibayangkan. Tugas kita bukan membandingkan perjalanan hidup, melainkan terus memperbaiki diri, bersabar, dan percaya bahwa setiap takdir Allah selalu mengandung hikmah. Tidak ada doa yang sia-sia, tidak ada penantian yang terbuang, selama hati tetap bergantung kepada-Nya. [DW]





