PEMBERDAYAAN perempuan melalui peningkatan pengetahuan dan kapabilitas di bidang kesehatan menjadi salah satu kunci penguatan kesehatan keluarga dan pembangunan manusia di kawasan Asia Pasifik. Pesan tersebut mengemuka dalam pembahasan Komisi 2 bertema “Perempuan, Pendidikan dan Kesehatan” pada Konferensi Keluarga Asia Pasifik di Jakarta, Sabtu (12/9).
Komisi 2 menghadirkan Prof. Dr. Dumilah Ayuningtyas, M.A.R.S. dari Indonesia dan Asst. Prof. Dr. Sarinda Puti dari Thailand, dengan Dini Rahma Bintari, S.Psi., M.Psi., Ph.D. sebagai moderator. Diskusi menyoroti pentingnya menempatkan perempuan sebagai aktor strategis dalam menjaga kesehatan keluarga sekaligus sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan kesehatan masyarakat.
Prof. Dr. Dumilah Ayuningtyas menekankan bahwa kesehatan individu menciptakan efek domino yang berjenjang hingga kemajuan bangsa. Karena itu, investasi kesehatan terbaik perlu dimulai dari tingkat rumah tangga dan keluarga melalui promosi kesehatan serta pencegahan spesifik.
Dalam pembangunan kesehatan, perempuan memiliki enam peran kunci, yaitu edukator pertama di rumah, manajer nutrisi keluarga, duta kesehatan komunitas, pendukung kesehatan mental, pembuat kebijakan/pemimpin, dan inovator kesehatan.
Sejalan dengan itu, Asst. Prof. Dr. Sarinda Puti menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan di bidang pendidikan dan kesehatan merupakan investasi lintas generasi. Pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pemberian akses terhadap layanan publik, tetapi harus diarahkan pada penguatan kapabilitas perempuan agar mampu memanfaatkan pengetahuan secara efektif.
Diskusi juga menyoroti persoalan ekosistem seperti malnutrisi dan keterlambatan perkembangan anak yang perlu menjadi landasan dalam menjaga keberlanjutan layanan. Program lifelong learning, integrasi kesehatan mental pengasuh, serta pengasuhan berbasis shared responsibility dipandang dapat menjadi orientasi kebijakan.
Penguatan Kapabilitas Perempuan Menjadi Prioritas Utama
Dari pembahasan tersebut, Komisi 2 merumuskan lima rekomendasi. Salah satu penekanan utama adalah meningkatkan pengetahuan perempuan agar memiliki kapabilitas dalam menjalankan perannya sebagai duta kesehatan keluarga.
Rekomendasi tersebut kemudian ditetapkan sebagai prioritas utama Komisi 2 dan menjadi landasan utama bagi pencapaian prioritas lainnya. Dengan demikian, penguatan kapasitas perempuan melalui pendidikan kesehatan dipandang sebagai fondasi untuk meningkatkan peran perempuan dalam menjaga kesehatan fisik dan mental keluarga serta masyarakat.
Lima rekomendasi Komisi 2 meliputi:
1. Meningkatkan kesadaran perempuan bahwa tugas menjaga kesehatan merupakan kewajiban seorang muslim.
2. Meningkatkan pengetahuan perempuan agar memiliki kapabilitas dalam menjalankan perannya sebagai duta kesehatan keluarga.
3. Meningkatkan peran perempuan dalam menyelesaikan masalah kesehatan fisik dan mental bangsa.
4. Merekomendasikan kebijakan berbagi peran dalam pengasuhan (shared responsibility) untuk meningkatkan kesehatan dalam keluarga.
5. Merekomendasikan pencegahan malnutrisi melalui promosi kesehatan dan pencegahan di tingkat rumah tangga.
Rekomendasi tersebut melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat, akademisi, serta negara-negara anggota, dengan sasaran pada tingkat nasional maupun regional.
“Kami menyerukan negara-negara Asia Pasifik memberikan Pendidikan dan memberdayakan perempuan sebagai agen Kesehatan dalam keluarga untuk menyelesaikan permasalahan Kesehatan bangsa dengan berpijak pada nilai agama dan kearifan lokal masing-masing bangsa.” Demikian rumusan dari komisi ini. [Mh/PBKM]


