KELENTINGAN Keluarga dalam menghadapi tantangan sangat penting dan merupakan terminologi yang banyak dibahas sehingga tema Resiliensi Keluarga Dalam Menghadapi Tantangan Global sangat menarik untuk diangkat sebagai topik konferensi.
Ini menjadi salah satu isu yang mencuat dalam pertemuan Asia Pasific Family Conference yang dilaksanakan di Jakarta (12/9).
Dinar Dewi Kania pemerhati keluarga dan peneliti INSISTS Jakarta menjelaskan keluarga adalah institusi suci (nidzam Ilahi) benteng pertama untuk menghadapi pengaruh negatif dari luar.
Tantangan yang dihadapi keluarga menjadi ancaman yang sangat berbahaya terhadap keberlangsungan keluarga contohnya masalah pernikahan, perilaku menyimpang, adiksi pornografi dan degradasi nilai agama, sehingga menurut data statistik sudah tercatat 40 negara yang menormalisasi LGBT.
“Ancaman lain yang dihadapi keluarga adalah sekularisasi bahasa, legislasi internasional dan perubahan demografi dan hal ini seringkali menjadi ancaman yang besar bagi keluarga,” lanjut Dinar.
Langkah strategis yang harus dilakukan, menurut Dinar, adalah advokasi hukum dan kebijakan, basis akademi dan keagamaan diperlukan sebagai basis resiliensi.
Selanjutnya, narasumber kedua pada pertemuan komisi 6 adalah Diana Setiyawati, Kepala Unit Centre for Public Mental Health Fakultas Psikologi UGM.
Pola siklus hidup keluarga saat ini berubah drastis dan menjadi tantangan global contohnya adalah kurangnya peran ayah di dalam pengasuhan keluarga jelas Diana.
Salah satu persoalan misalnya tentang ekonomi menjadikan peran ayah menjadi tergeser melahirkan mental elness.
Keberadaan peran ayah menjadi sangat penting walau harus menghadapi persoalan misal pekerjaan yang berpindah, perceraian dll membuat ayah tidak berperan di dalam keluarga.
Lebih lanjut Diana menjelaskan bahwa Resiliensi bukan urusan mikro, keluarga akan jadi aset masyarakat jika berfungsi dengan baik dan tentunya akan mendapat dukungan.
“Keluarga harus sekolah terus menerus karena perubahan di dalam keluarga senantiasa mengalami perubahan, dan Negara ikut berperan penting dalam membentuk resiliensi keluarga dalam menyusun kebijakan, keterlibatan lembaga-lembaga perempuan, akademisi bahkan Majelis taklim bapak ibu adalah saran penting dalam upaya menjaga ketangguhan keluarga,” pungkasnya. [Mh/PBKM]


