ADA kalanya orang tua begitu lelah sampai emosi terasa sulit dikendalikan. Pekerjaan, persoalan rumah tangga, tekanan ekonomi, kurang tidur, hingga tingkah anak yang tidak sesuai harapan bisa membuat kesabaran perlahan menipis. Namun, ketika amarah mengambil alih, sesuatu yang hanya berlangsung beberapa menit dapat meninggalkan luka yang jauh lebih panjang.
Sebuah kisah dari ruang konsultasi keluarga menjadi pengingat yang menyentuh. Seorang ibu yang bekerja sebagai petugas kebersihan sekaligus menjadi orang tua tunggal suatu hari tidak masuk kerja tanpa kabar. Keesokan harinya, ia datang dengan mata sembab dan wajah penuh penyesalan.
Baca Juga: Simak Ragam Bahan Herbal untuk Mempercepat Penyembuhan Kista
Jangan Biarkan Amarah Melukai Anak
Anaknya dikabarkan pingsan saat upacara di sekolah. Awalnya diduga karena kepanasan. Namun ternyata kondisi anak jauh lebih serius. Tubuhnya dipenuhi luka dan mengalami kejang berulang. Penyebabnya begitu memilukan karena sehari sebelumnya anak tersebut dipukul oleh ibunya sendiri.
Sang ibu kemudian menyadari betapa besar dampak dari kemarahannya. Ia berkata bahwa anaknya sampai seperti tidak mengenalinya.
Kisah ini tentu bukan untuk menghakimi, melainkan menjadi cermin bagi siapa saja yang sedang belajar menjadi orang tua. Kita mungkin pernah membentak karena lelah atau berbicara dengan nada tinggi karena kehilangan kesabaran. Tetapi anak bisa mengingat kejadian tersebut jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan.
Luka pada tubuh mungkin perlahan sembuh. Namun, luka di hati bisa membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Anak memang membutuhkan aturan dan batasan. Mereka perlu ditegur ketika melakukan kesalahan. Tetapi mendidik tidak sama dengan melampiaskan amarah. Ketegasan juga tidak harus disertai kekerasan.
Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya mengendalikan amarah. Ketika emosi mulai memuncak, kita dapat berlindung kepada Allah, mengambil jarak sejenak dari situasi, duduk atau berbaring, serta berwudhu agar hati lebih tenang.
Tidak perlu menyelesaikan kesalahan anak ketika hati sedang terbakar. Beri diri sendiri waktu untuk kembali berpikir jernih. Jeda beberapa menit mungkin jauh lebih baik daripada sebuah tindakan yang akhirnya disesali bertahun-tahun.
Dan jika suatu hari kita terlanjur membentak atau menyakiti hati anak, jangan gengsi untuk meminta maaf. Datangi anak, tatap matanya, dan katakan dengan tulus, “Maafkan Ibu. Ibu salah karena membiarkan amarah menguasai diri.”
Meminta maaf tidak membuat orang tua kehilangan wibawa. Justru dari sana anak belajar bahwa manusia bisa melakukan kesalahan dan harus berani bertanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat yang kita berikan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat orang tuanya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga rumah menjadi tempat anak merasa aman untuk pulang, bukan tempat mereka belajar merasa takut.
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj





