BENCANA bisa datang bertubi-tubi di sebuah negeri. Tapi, itu tidak dimaksudkan untuk memusnahkan.
Indonesia berada di rangkaian ring of fire atau cincin api Pasifik. Rangkaian itu membentuk seperti cincin sejauh 40 ribu kilometer, dari Selandia Baru, Indonesia, Jepang, Kepulauan Aleut, pantai barat Amerika Utara, hingga ujung Amerika Selatan.
Di jalur inilah terdapat banyak gunung berapi aktif yang terbentuk dari pertemuan lempeng tektonik. Di kawasan ini pula, terjadi aktivitas seismik tinggi yang menjadi sebab 75 hingga 90 persen gempa bumi dunia.
Makna Lain dari Bencana Alam
Namun begitu, jangan maknai bencana alam sebagai sebuah peristiwa alam biasa. Karena manusia tidak hanya berada di alam fisik, tapi juga di alam akal dan jiwa.
Kenyataan sebagai kawasan rawan bencana, tentu harus menjadi pelajaran. Manusia itu makhluk yang berpikir. Bukan pasrah apa adanya.
Kedua, bencana juga sebagai teguran dari Allah. Bukan untuk memusnahkan, tapi sebagai teguran agar introspeksi: mana yang salah dan mana yang benar. Jangan ndablek atau keras kepala.
Para ulama membedakan antara bencana besar sebelum masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan masa sesudahnya, atau di zaman kita saat ini.
Di masa lalu, bencana memang untuk memusnahkan seperti banjir besar di masa Nabi Nuh alaihissalam, bencana di masa Nabi Luth alaihissalam, dan seterusnya.
Di masa saat ini, terlebih lagi untuk umat Islam, bencana tak lebih sebagai teguran agar sadar dan mau kembali ke jalan yang benar.
Sebuah pameo mengatakan, jika tak ada yang mau menegur kezaliman, maka Allah yang akan menegurnya. Dan teguran Allah bisa menyusahkan semua.
Jadikan bencana sebagai introspeksi diri. Mulai dari kita sendiri, dan siapa pun yang memikul amanah besar umat. [Mh]


