DI ANTARA deretan wanita mulia yang hidup bersama Rasulullah, ada satu nama yang mungkin belum begitu akrab di telinga banyak orang: Sumaira binti Qais Al-Anshariyah. Namanya tidak banyak muncul dalam riwayat yang panjang, tetapi satu peristiwa yang diabadikan sejarah telah menjadikannya simbol keteguhan iman dan kecintaan luar biasa kepada Rasulullah.
Sumaira berasal dari kalangan Anshar, tepatnya Bani Dinar di Madinah. Ia termasuk perempuan yang memeluk Islam, berbaiat kepada Rasulullah, dan mendampingi perjuangan kaum Muslimin pada masa-masa awal dakwah. Ia juga dikenal sebagai ibu dari beberapa sahabat yang ikut berjihad di jalan Allah.
Baca Juga: Menyelami Rahasia Surat Al Araf sebagai Cahaya Petunjuk
Sumaira Binti Qais Teladan Cinta yang Mendahulukan Rasulullah
Kesabaran yang Menggetarkan Hati
Peristiwa paling terkenal dalam hidup Sumaira terjadi setelah Perang Uhud. Saat itu, Madinah dipenuhi kepanikan karena tersebar kabar bahwa Rasulullah gugur di medan perang. Penduduk berhamburan keluar untuk memastikan keadaan beliau, termasuk Sumaira.
Di tengah perjalanan, seseorang mengabarkan bahwa putranya, Nu’man, telah syahid. Belum sempat ia mengusap air mata, datang kabar berikutnya bahwa putranya yang lain, Sulaim, juga gugur. Bahkan beberapa riwayat menyebut suami dan kerabat dekatnya turut syahid pada hari yang sama. Meski demikian, Sumaira tidak larut dalam ratapan. Kalimat yang pertama keluar dari lisannya justru, “Bagaimana keadaan Rasulullah?”
Ketika akhirnya ia melihat Rasulullah masih hidup, wajahnya dipenuhi rasa syukur. Ia kemudian mengucapkan kalimat yang begitu masyhur:
“Setiap musibah setelah engkau, wahai Rasulullah, terasa ringan.”
Ucapan ini bukan berarti ia tidak mencintai keluarganya. Sebaliknya, ia sangat menyayangi mereka. Namun cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segala kecintaan duniawi.
Sifat yang Patut Diteladani
Ada beberapa akhlak indah yang dapat kita pelajari dari Sumaira binti Qais.
Pertama, iman yang kokoh. Dalam keadaan kehilangan orang-orang tercinta, ia tetap mampu menenangkan hati dengan mengingat Rasulullah. Ia memahami bahwa keselamatan agama lebih besar daripada kehilangan harta maupun keluarga.
Kedua, sabar yang aktif. Kesabaran Sumaira bukan berarti tidak merasakan sedih. Ia tetap seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya. Namun ia memilih bersabar tanpa menyalahkan takdir Allah, bahkan menerima syahidnya putra-putranya sebagai kemuliaan.
Ketiga, mendidik keluarga dalam ketaatan. Anak-anak Sumaira tumbuh menjadi pejuang Islam. Nu’man, Adh-Dhahhak, dan Sulaim dikenal sebagai sahabat yang ikut berjihad bersama Rasulullah. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pendidikan iman yang dibangun di dalam rumahnya.
Pelajaran untuk Muslimah Masa Kini
Kisah Sumaira mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah bukan sekadar diucapkan dalam shalawat, tetapi dibuktikan dengan menjadikan ajaran beliau sebagai prioritas hidup. Di zaman sekarang, ujian mungkin bukan lagi medan perang, melainkan godaan dunia, kesibukan, dan kecintaan berlebihan kepada hal-hal yang melalaikan.
Ketika hati mulai dipenuhi kegelisahan karena kehilangan sesuatu, kisah Sumaira mengingatkan kita bahwa masih ada nikmat yang jauh lebih besar: iman dan petunjuk Allah. Selama keduanya tetap terjaga, setiap musibah akan terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menghimpunkan kita bersama para sahabat yang hatinya dipenuhi cinta kepada Rasulullah dan menanamkan kesabaran seperti yang dimiliki Sumaira binti Qais. [DW]





