ASOSIASI Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) membentuk kanal komunikasi khusus bagi tour leader yang tengah mendampingi jemaah umroh, sebagai langkah penanganan dampak gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umroh dan Haji (Himpuh) Muhammad Firman Taufik mengatakan pihaknya saat ini tengah mendata anggota yang terdampak gangguan penerbangan, sekaligus melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pihak terkait memastikan penanganan jemaah berjalan optimal.
“Saat ini Himpuh sedang mendata anggota kami yang terdampak, membuat kanal komunikasi khusus untuk para tour leader yang sedang membersamai jemaah, dan melakukan komunikasi intens dengan pihak-pihak terkait,” ujar Firman, dikutip dari berbagai sumber.
Menurut dia, keberadaan kanal komunikasi tersebut penting untuk mempercepat penyampaian informasi kepada anggota yang berada langsung bersama jemaah, baik yang masih berada di Indonesia, dalam perjalanan, maupun yang tertahan di Arab Saudi.
Baca juga: Wamenhaj Tekankan Penguatan Perlindungan Jemaah serta Revitalisasi Peran KBIHU
Asosiasi PPIU Bentuk Kanal Komunikasi bagi Tour Leader yang Mendampingi Jemaah
Firman mengatakan upaya koordinasi juga dilakukan bersama Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj). Kemenhaj telah membentuk kanal komunikasi khusus dengan asosiasi penyelenggara umroh yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk maskapai penerbangan dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Firman mengatakan gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi menimbulkan kerugian dan biaya tambahan bagi jemaah umroh, terutama karena sejumlah fasilitas yang telah menjadi bagian dari paket perjalanan dapat terganggu.
Jemaah menghadapi sejumlah risiko akibat tertundanya atau dialihkannya penerbangan, mulai dari fasilitas hotel, visa, hingga tiket pesawat yang telah masuk dalam paket umroh.
“Risiko buat jemaah, kehilangan fasilitas hotel, visa, pesawat yang merupakan bagian dari paket umroh, bisa juga risiko biaya karena ada fasilitas dadakan yang harus mereka tanggung secara mandiri,” kata dia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ia menjelaskan dampak gangguan penerbangan tersebut dapat terjadi pada jemaah dalam beberapa kondisi. Pertama, jemaah yang akan berangkat ke Arab Saudi, tetapi masih berada di bandara keberangkatan yang operasionalnya ditutup akibat kondisi penerbangan.
Kedua, jemaah yang masih berada di Arab Saudi, baik di Jeddah maupun Madinah, dan tertahan keberangkatannya menuju Indonesia karena bandara tujuan di Tanah Air mengalami penutupan atau pembatasan operasional.
Ketiga, jemaah yang berada di negara transit dalam perjalanan menuju Indonesia juga dapat terdampak karena penerbangan lanjutan mengalami gangguan.
“Keempat, jemaah yang mendarat tidak di bandara tujuan. Misalnya tujuan awalnya Jakarta, tetapi kemudian dialihkan ke Malaysia, Singapura, Aceh, Kertajati, dan lainnya,” kata Firman.
Senada dengan Firman, Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umroh Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi mengatakan salah satu persoalan yang cukup krusial adalah penyesuaian jadwal penerbangan.
Gangguan akibat abu vulkanik dapat memengaruhi jadwal kedatangan dan keberangkatan, sehingga berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap layanan jemaah umroh. [Din]





