TIDAK semua sahabat Rasulullah dikenang karena peperangan, banyaknya hadis yang diriwayatkan, atau kisah-kisah besar yang sering diceritakan. Ada pula sosok yang namanya mungkin jarang terdengar, tetapi memiliki satu perbuatan yang menyimpan pelajaran sangat dalam. Salah satunya adalah Tsabitah binti Yu’ar Al-Anshariyah.
Nama Tsabitah disebut dalam kisah Salim maula Abu Hudzaifah. Dalam sebuah sumber sejarah disebutkan bahwa Salim pernah menjadi budak milik Tsabitah binti Yu’ar Al-Anshariyah. Namun, Tsabitah kemudian memerdekakannya. Salim kelak dikenal sebagai salah satu sahabat yang memiliki kedudukan istimewa karena keimanan, ilmu, dan kecintaannya terhadap Al-Qur’an.
Baca Juga: Menyelami Rahasia Surat Al Araf sebagai Cahaya Petunjuk
Tsabitah Binti Yu’ar Sosok yang Mengajarkan Arti Memerdekakan Sesama
Kisah tersebut mungkin terlihat singkat. Tidak banyak catatan panjang mengenai kehidupan Tsabitah yang bisa ditemukan. Tetapi justru dari satu peristiwa itu kita dapat melihat sebuah keteladanan yang sangat berarti, yaitu sikap tidak menggenggam manusia lain demi kepentingan diri sendiri.
Memerdekakan seorang budak pada masa itu bukan perkara kecil. Status sosial seseorang sangat dipengaruhi oleh kedudukannya sebagai orang merdeka atau budak. Karena itu, ketika Tsabitah memilih untuk membebaskan Salim, tindakannya menunjukkan adanya kemurahan hati dan kepedulian terhadap martabat manusia.
Ada pelajaran penting yang bisa kita renungkan dari sini. Kebaikan tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk sesuatu yang besar dan diketahui banyak orang. Terkadang, kebaikan justru hadir ketika seseorang bersedia melepaskan sesuatu yang sebenarnya berada dalam kekuasaannya.
Tsabitah memberikan gambaran bahwa harta, kedudukan, maupun hak yang kita miliki tidak semestinya membuat hati menjadi keras. Apa yang berada di tangan kita pada akhirnya hanyalah titipan Allah. Ketika kesempatan untuk membantu orang lain datang, seorang Muslim seharusnya tidak hanya bertanya, “Apa yang akan aku dapatkan?” tetapi juga, “Apa yang bisa aku berikan?”
Keteladanan lainnya adalah keberanian untuk memperlakukan orang lain dengan kemuliaan. Kisah Salim menunjukkan bahwa seseorang yang dahulu berada dalam posisi sebagai budak kemudian dapat tumbuh menjadi pribadi yang mulia di tengah kaum Muslimin. Salim dikenal sebagai sahabat yang dekat dengan Al-Qur’an dan memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam.
Dari kisah Tsabitah, kita juga belajar agar tidak meremehkan kebaikan yang terlihat sederhana. Bisa jadi, satu keputusan baik yang kita lakukan hari ini menjadi jalan bagi lahirnya kebaikan-kebaikan lain di masa depan.
Nama Tsabitah mungkin tidak sepopuler Aisyah, Khadijah, Fatimah, atau para sahabiyah lainnya. Namun, sedikit catatan tentang dirinya tetap menyimpan pesan yang dalam. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari seberapa sering namanya disebut, melainkan dari kebaikan yang pernah ia lakukan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga kita dapat meneladani semangat tersebut. Belajar memberi tanpa banyak berharap, membantu tanpa merendahkan, serta menggunakan apa yang Allah titipkan kepada kita untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain. Sebab, boleh jadi sebuah kebaikan yang kita anggap kecil justru menjadi amal yang besar di sisi Allah. [DW]





