SETIAP datangnya 12 Rabiulawal, hati kaum muslimin kembali dipenuhi rasa syukur dan cinta kepada Nabi Muhammad. Berbagai majelis dipenuhi lantunan selawat, pembacaan Al-Qur’an, serta kajian sirah yang mengingatkan kita pada sosok manusia paling mulia. Namun, hakikat mencintai Rasulullah tidak berhenti pada peringatan kelahiran beliau. Cinta sejati adalah ketika kita berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di dalam rumah.
Allah Swt. berfirman, “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini menjadi pengingat bahwa Rasulullah adalah teladan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk sebagai suami, ayah, dan pemimpin keluarga.
Baca Juga: Asma Binti Salamah Perempuan Tangguh yang Menyertai Hijrah ke Negeri Habasyah
Meneladani Rasulullah Dimulai dari Rumah
Seorang ayah sering kali dipandang sebagai pencari nafkah. Padahal, tugasnya jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan materi. Ayah adalah penjaga arah keluarga. Dari sikapnya, anak-anak belajar tentang keberanian, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Rasulullah yang memimpin umat dengan berbagai kesibukan tetap meluangkan waktu untuk keluarganya. Beliau membantu pekerjaan rumah, bercanda dengan istri, menggendong anak-anak, dan selalu memperlakukan keluarganya dengan kelembutan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah biasa membantu keluarganya di rumah, lalu ketika waktu salat tiba, beliau segera berangkat menunaikan salat. Keteladanan ini menunjukkan bahwa membantu istri bukan mengurangi wibawa seorang lelaki, justru memperlihatkan kebesaran akhlaknya.
Rasulullah juga bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah bagaimana ia dipuji di luar rumah, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang paling dekat dengannya.
Anak-anak mungkin belum memahami panjangnya kisah sirah Nabi, tetapi mereka mampu merasakan akhlak beliau melalui perilaku kedua orang tuanya. Mereka mengenal kelembutan Nabi ketika ayah berbicara tanpa membentak. Mereka belajar kasih sayang saat ibu memeluk dan mendengarkan cerita mereka dengan sabar. Mereka memahami arti memaafkan ketika melihat orang tua berdamai setelah berbeda pendapat.
Karena itu, jangan sampai rumah dipenuhi cerita tentang Rasulullah, tetapi kosong dari teladan beliau. Jangan sampai anak diminta mencintai Nabi yang penuh kasih, sementara ia tumbuh dalam suasana penuh amarah dan kata-kata yang melukai hati.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Rumah yang meneladani Rasulullah juga diterangi dengan ibadah. Salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, doa bersama, zikir, dan selawat hendaknya menjadi bagian dari rutinitas keluarga. Allah Swt. berfirman, “Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).
Semoga kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya hidup di lisan, tetapi juga tampak dalam akhlak, kasih sayang, dan ibadah yang menghidupkan rumah kita setiap hari. [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj





