TAHUN ini, Indonesia akan memasuki tahun ke-81 kemerdekaannya. Untuk ukuran manusia, angka itu sudah sangat tua. Tapi untuk ukuran bangsa dan negara, masih sangat belia.
Mengenang HUT Kemerdekaan itu sejatinya untuk menyegarkan kembali semangat perjuangan. Sebuah semangat yang pernah ditebus dengan darah dan air mata oleh para pahlawan, oleh para pendiri bangsa, oleh para ulama dahulu, dan oleh kakek nenek kita.
Zaman memang sudah berubah. Peperangan dalam arti konflik bersenjata dengan pihak asing sudah tak lagi terjadi. Tapi, peperangan dalam arti penguasaan dan kendali negara oleh pihak asing selalu akan terjadi.
Indonesia itu negeri kaya. Apa saja yang dibutuhkan dunia, hampir semuanya ada di alam Indonesia: batubara, sawit, nikel, emas, timah, dan lainnya. Jumlah penduduk yang hampir 300 juta jiwa juga menjadi pasar sangat potensial untuk produk asing.
Harus diingat, bahwa dunia saat ini masih dikuasai oleh ‘pemenang’ perang dunia lalu: Barat. Tidak terkecuali tanah air Indonesia, juga akan menjadi incaran cengkeraman mereka.
Seorang mantan Menhan AS di era Presiden Bill Clinton: William Cohen, diisukan pernah menginginkan Indonesia terpecah menjadi beberapa negara. Tujuannya, agar negeri ini menjadi lebih mudah untuk dikendalikan dan dilemahkan.
Boleh jadi, berbagai strategi terus dilancarkan pihak asing untuk meraih ambisi mereka menguasai dan mengendalikan Indonesia. Mulai dari sektor ekonomi dan keuangan, pertahanan, budaya, dan lainnya.
Hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Karena para pemenang perang selalu ingin mendapatkan yang lebih banyak dari pemiliknya sendiri.
Semoga merdeka Indonesia bukan sekadar slogan. Bukan sekadar ‘ritual’ tahunan yang hanya menjadi pemantas kegiatan kenegaraan.
Merdeka Indonesia harus tampak dalam keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh seluruh warganya. Bukan hanya dalam ‘omon-omon’ belaka. [Mh]


