MANUSIA itu tempat salah dan lupa. Maafkan salah dan lupa itu, karena boleh jadi itulah pintu kembali mereka.
Tak ada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berani terang-terangan berangkat berhijrah. Kecuali, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Umumnya para sahabat Nabi berangkat hijrahnya malam hari, sembunyi-sembunyi, dan dalam jumlah yang sangat sedikit agar tidak memunculkan kecurigaan.
Namun Umar bin Khaththab, berangkat hijrahnya di siang bolong. Sebelum berangkat, Umar thawaf terlebih dahulu di Ka’bah. Kemudian, ia berteriak-teriak di depan orang banyak di dekat Ka’bah bahwa dirinya akan berangkat hijrah.
“Hei, siapa yang ingin istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim, silakan tunggu Umar di lembah itu. Karena aku akan berhijrah melalui jalan itu!” ucapnya.
Umar berangkat hijrah dengan pedang terhunus, dilengkapi busur dan anak panah. Bersamanya, ada sekitar 20 orang ikut berangkat hijrah. Di antara mereka ada keluarga Umar dan seorang teman dekatnya sewaktu menjadi ‘preman’, yaitu Iyash bin Rabiah.
Ada satu temannya lagi yang tiba-tiba batal berangkat, yaitu Hisyam bin Ash. Ia membatalkan berangkat tanpa kabar. Sedikit banyak, hal ini juga mempengaruhi Iyash bin Rabiah. Tapi, ia tetap berangkat juga bersama Umar dan rombongan.
Tanpa mereka sadari, rupanya Abu Jahal dan satu rekannya yang masih menjadi ‘preman’ membuntuti rombongan itu. Keduanya, ingin mempengaruhi Iyash untuk batal hijrah dan kembali ke Mekah.
Ketika rombongan Umar sedang beristirahat di perbatasan Madinah, tepatnya di Quba, Abu Jahal menghampiri Iyash dan Umar.
Abu Jahal mengatakan, “Iyash, ibumu memintamu kembali ke Mekah. Ia akan ‘ngambek’ jika kamu tak mau kembali.”
Iyash mulai ragu apakah tetap bersama Umar ke Madinah atau bersama Abu Jahal kembali ke Mekah. Masalahnya, ia sangat mencintai ibunya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan ibunya.
Melihat Iyash mulai ragu, Umar mengatakan, “Aku akan memberikanmu uang jika tiba di Madinah nanti.”
Tapi, Iyash tetap menampakkan keraguannya. Sepertinya, ia tulus karena khawatir dengan keadaan ibunya.
“Baiklah, aku akan kembali ke Mekah untuk melihat keadan ibuku,” ucap Iyash sembari melangkah menghampiri Abu Jahal untuk bersama-sama kembali ke Mekah.
Umar khawatir sahabatnya yang sudah tobat itu akan kembali ke dunianya yang lama. Dan sebagai ungkapan cinta Umar kepada sahabatnya itu, Umar memberikan untanya untuk dikendarai Iyash kembali ke Mekah.
Beberapa waktu pun berlalu. Umar dan dua sahabatnya yang terpisah itu merasakan hal yang sama. Yaitu, Allah tidak akan memaafkan Iyash dan Hisyam karena keduanya tak berangkat hijrah bergabung dengan Rasulullah. Padahal, keduanya sudah masuk Islam.
Tiba-tiba satu firman Allah turun dan begitu menyentuh hati Umar. Yaitu, Surah Az-Zumar ayat 53 hingga 55. Ayat itu menyatakan bahwa Allah subhanahu wata’ala memaafkan siapa pun yang melampaui batas. Dan, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Potongan ayat itu ditulis tangan oleh Umar dan dikirim ke dua sahabatnya di Mekah. Setelah keduanya membaca, mereka begitu tersentuh. Dan, keduanya akhirnya berangkat hijrah dan menemui Umar dan Rasulullah di Madinah.
**
Menyamakan kapasitas pada semua orang merupakan kekeliruan, meskipun di level atau komunitas yang sama. Karena dalam diri seseorang, ada kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Karena itu, bijaksanalah dalam perbedaan kapasitas, sebesar apa pun perbedaan itu. Bukalah pintu maaf sebesar-besarnya dan tetaplah munculkan rasa cinta dan persaudaraan.
Justru dengan sikap positif ini, mereka akan menyadari kekhilafannya. Sebaliknya jika dijauhi, mereka akan sulit kembali. [Mh]



