BIJI selasih biasanya hanya muncul sebagai pelengkap dalam es buah, minuman sirup, atau sajian takjil. Bentuknya memang kecil, tetapi ketika direndam dalam air, biji hitam ini berubah menjadi seperti butiran yang diselimuti lapisan bening menyerupai gel. Di balik tampilannya yang sederhana, biji selasih ternyata memiliki kandungan gizi yang cukup menarik untuk diperhatikan.
Biji selasih yang umum dikonsumsi berasal dari tanaman Ocimum basilicum. Dalam literatur internasional, biji ini dikenal sebagai basil seeds, sedangkan di beberapa negara disebut sabja atau tukmaria. Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Foods menyebutkan bahwa biji selasih mengandung serat pangan, protein, mineral seperti kalsium, kalium, dan magnesium, serta sejumlah senyawa fenolik.
Baca Juga: Beberapa Menu Makanan yang Tidak Disarankan untuk Sarapan
Biji Selasih dan Segudang Manfaatnya untuk Kesehatan
Salah satu manfaat yang paling menarik adalah mendukung kesehatan pencernaan. Biji selasih memiliki kandungan serat yang cukup tinggi. Ketika terkena air, bagian luar biji membentuk lapisan seperti gel yang berasal dari komponen seratnya. Serat sendiri dibutuhkan tubuh untuk membantu menjaga pergerakan saluran pencernaan dan mendukung pola buang air besar yang teratur. Penelitian mengenai Ocimum basilicum juga menunjukkan bahwa bijinya merupakan sumber serat yang cukup baik.
Kandungan serat tersebut juga membuat biji selasih berpotensi membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Karena itu, menambahkan biji selasih ke dalam menu bisa menjadi salah satu cara memperkaya tekstur dan kandungan serat makanan. Namun, bukan berarti biji selasih secara otomatis menyebabkan penurunan berat badan. Pengelolaan berat badan tetap bergantung pada pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, tidur, dan keseimbangan energi.
Manfaat berikutnya berkaitan dengan kandungan antioksidannya. Biji selasih mengandung berbagai senyawa fenolik, termasuk beberapa jenis polifenol. Senyawa antioksidan membantu melindungi sel tubuh dari tekanan oksidatif yang terjadi ketika jumlah radikal bebas berlebihan. Kajian ilmiah terbaru mengenai biji selasih juga menemukan potensi aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dari berbagai komponen bioaktifnya.
Tidak hanya serat dan antioksidan, biji selasih juga mengandung lemak dengan asam lemak omega-3 jenis alfa-linolenat (ALA). Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan biji selasih menarik untuk dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional. Meski demikian, keberadaan suatu zat gizi tidak otomatis berarti biji selasih dapat mengobati penyakit tertentu. Penelitian pada manusia masih diperlukan untuk memastikan seberapa besar manfaat klinisnya.
Biji selasih juga menyediakan beberapa mineral penting, termasuk kalsium, magnesium, dan kalium. Ketiganya memiliki peran dalam berbagai fungsi tubuh. Kalsium dan magnesium berkaitan dengan kesehatan tulang serta fungsi otot, sedangkan kalium membantu mendukung fungsi saraf dan keseimbangan cairan tubuh.
Cara mengonsumsi biji selasih sebenarnya sederhana. Biji dapat direndam terlebih dahulu dalam air hingga mengembang, kemudian dicampurkan ke dalam minuman, yoghurt, puding, atau makanan lainnya. Hindari langsung menelan biji dalam keadaan kering karena biji akan mengembang setelah terkena cairan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Meski tergolong bahan pangan, konsumsi biji selasih tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Orang yang belum terbiasa mengonsumsi banyak serat sebaiknya menambah porsinya secara bertahap dan memastikan asupan air cukup. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang mengonsumsi obat secara rutin, konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum menjadikannya konsumsi harian.
Pada akhirnya, biji selasih bukan sekadar hiasan dalam segelas es buah. Kandungan serat, protein, mineral, lemak nabati, dan senyawa bioaktif membuatnya menarik sebagai bagian dari pola makan beragam dan seimbang. Ukurannya memang kecil, tetapi manfaat nutrisinya cukup besar untuk membuat bahan tradisional ini semakin layak diperhitungkan. [DW]





