PERNIKAHAN dalam Islam sering disebut sebagai salah satu bentuk ibadah. Saat akad nikah terucap, banyak pasangan mengawali perjalanan rumah tangganya dengan niat yang tulus. Mereka berkata, “Aku menikah karena Allah,” atau “Aku ingin membangun keluarga yang diridai-Nya.” Niat itu begitu indah dan penuh harapan. Namun, perjalanan setelahnya tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Ketika kehidupan rumah tangga mulai diwarnai perbedaan pendapat, masalah ekonomi, kelelahan mengurus anak, hingga konflik yang terus berulang, tidak sedikit orang yang mulai mempertanyakan kembali niat awalnya. Bahkan, ada yang merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanan yang dulu diyakini sebagai ibadah.
Baca Juga: Kisah Teladan Ghaziyah binti Jabir Al-Amiriyah yang Memilih Iman di Atas Segalanya
Benarkah Tujuan Menikah Itu karena Ibadah?
Padahal, di sinilah letak ujian sesungguhnya. Menikah karena ibadah bukan hanya tentang mengucapkan niat di awal, tetapi tentang menjaga niat itu tetap hidup setiap hari. Sebab ibadah tidak berhenti ketika akad selesai. Justru ibadah itu dimulai ketika dua orang belajar saling memahami, memaafkan, dan bertahan di tengah berbagai ujian kehidupan.
Sering kali kita mudah mengatakan bahwa anak adalah amanah dari Allah. Namun ketika anak sulit diatur, sering menangis, atau membutuhkan perhatian tanpa henti, rasa lelah mulai menguasai hati. Begitu pula ketika pasangan tidak lagi sesuai dengan ekspektasi. Rumah tangga yang dulu dibayangkan penuh kebahagiaan berubah menjadi tempat yang menguji kesabaran.
Di titik inilah seseorang perlu melakukan evaluasi. Jangan-jangan selama ini kita hanya sebatas mengklaim bahwa menikah adalah ibadah, tetapi belum benar-benar menjalankannya sebagai ibadah. Sebab setiap ibadah pasti memiliki konsekuensi berupa kesungguhan, pengorbanan, dan kesabaran.
Shalat, misalnya, tetap dilakukan meski sedang lelah. Puasa tetap dijalankan meski lapar dan haus. Demikian pula pernikahan. Ia membutuhkan komitmen untuk terus memperbaiki diri meskipun keadaan tidak selalu menyenangkan. Ketika pasangan melakukan kesalahan, kesempatan untuk memaafkan adalah bagian dari ibadah. Saat harus bekerja keras demi keluarga, itu pun menjadi ladang pahala jika diniatkan karena Allah.
Rumah tangga juga mengajarkan bahwa cinta saja tidak cukup. Dibutuhkan kesabaran, komunikasi yang baik, dan keikhlasan menerima kekurangan pasangan. Tidak ada keluarga yang bebas dari masalah. Yang membedakan adalah bagaimana setiap pasangan menyikapinya. Apakah masalah membuat mereka semakin jauh dari Allah, atau justru semakin dekat kepada-Nya.
Menjadikan pernikahan sebagai ibadah berarti terus memperbarui niat. Saat muncul rasa kecewa, ingat kembali alasan mengapa dulu memilih menikah. Saat merasa lelah, hadirkan kembali keyakinan bahwa setiap kesabaran tidak akan sia-sia di sisi Allah. Bahkan senyum kepada pasangan, membantu pekerjaan rumah, menemani anak belajar, hingga menahan amarah termasuk amal yang bernilai jika dilakukan karena mengharap rida-Nya.
Tentu, bukan berarti semua masalah rumah tangga harus dipendam. Islam juga mengajarkan pentingnya bermusyawarah, saling menasihati, dan mencari solusi terbaik ketika konflik terjadi. Namun semua itu akan lebih mudah dijalani jika niat ibadah tetap menjadi fondasi utama.
Karena itu, sesekali luangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri, bukan hanya, “Apakah aku masih mencintai pasangan?” tetapi juga, “Apakah aku masih menjaga niatku menikah karena Allah?” Ketika niat itu terus diperbarui, rumah tangga tidak hanya menjadi tempat berbagi suka dan duka, tetapi juga menjadi jalan panjang menuju rida Allah dan surga-Nya. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Nuzul Dzikri





