PEMIMPIN itu bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Begitu pun untuk setiap suami, karena di pundak mereka ada tanggung jawab keluarga.
Sebelum bertugas sebagai manajer untuk ditempatkan di beberapa perusahaan, sejumlah calon pemimpin yang seratus persen laki-laki ini menjalani latihan dasar ketentaraan.
Mereka mengikuti latihan berbaris, ketahanan tubuh, latihan disiplin, dan tentu saja kepemimpinan. Latihan itu berlangsung selama tujuh hari.
“Sebelum kalian menjadi manajer, kalian harus diuji sebagai pemimpin rumah tangga,” ungkap sang pelatih, begitu tegas.
Mereka menyadari bahwa untuk bisa menjadi manajer yang mumpuni, berarti juga harus mumpuni sebagai pemimpin rumah tangga.
Sang pelatih pun meminta calon pemimpin ini untuk bersikap jujur. Termasuk jujur tentang keadaan rumah tangga mereka.
“Siapa di antara kalian yang takut dengan istri, silakan berada di barisan kanan,” perintah sang pelatih.
Awalnya tak satu pun dari para peserta yang beranjak untuk pindah ke barisan kanan. Mungkin mereka malu.
“Ayo, latihan kepemimpinan ini untuk menyiapkan kalian sebagai pemimpin yang berkualitas. Jangan tidak jujur!” teriak sang pelatih lebih keras lagi.
Akhirnya, pelan tapi pasti, sejumlah peserta ada yang pindah ke barisan kanan. Jumlah mereka hampir sama dengan barisan di sebelah kiri.
“Baiklah, untuk beberapa hari kedepan kalian akan menjalani latihan dasar kepemimpinan. Tetap berada di kelompok barisan kalian, kecuali sudah terjadi perubahan di rumah tangga kalian!” perintah sang pelatih.
Seiring beberapa hari dalam perjalanan latihan, belum ada peserta yang dinilai lulus untuk pindah ke barisan kiri. Mereka seperti pasrah untuk tetap berada di barisan kanan.
Di hari-hari terakhir, ada seorang peserta yang tiba-tiba pindah ke barisan kiri. Tentu saja, hal ini sangat menggembirakan sang pelatih.
“Ah, syukurlah akhirnya ada peserta yang berhasil pindah dari barisan kanan ke barisan kiri. Silakan Anda jelaskan, Pak!” ucap sang pelatih.
“Terus terang, saya terpaksa pindah ke barisan kiri karena disuruh istri!” ucapnya dengan rasa malu.
**
Fenomena suami-suami takut istri boleh jadi bukan sekadar imajinasi. Ada dan jumlah mereka mungkin tidak sedikit.
Namun, jangan salah paham dengan fenomena ini. Jangan ditafsirkan bahwa itu pertanda ada istri-istri otoriter yang ingin menguasai suami.
Sebaliknya, boleh jadi ini pertanda keadaan para suami yang tidak mampu menunjukkan dirinya sebagai pemimpin keluarga sejati. Mungkin mereka lemah bersikap, tidak piawai mengambil keputusan, dan suka plin plan.
Sebelum sebagai pemimpin apa pun, seorang laki-laki harus membuktikan diri mampu menjadi pemimpin rumah tangga. Termasuk, sebagai pemimpin istri. [Mh]





