IBU itu pendidik utama anak-anaknya. Baiknya ibu merupakan jaminan baiknya bangsa.
Dalam khazanah sejarah tokoh Islam, ada seorang ibu muda yang merelakan kepentingan pribadinya untuk kesolehan anak. Ia bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik As-Syaibani.
Melalui kegigihannya, Shafiyah sukses melahirkan seorang sosok ulama kaliber dunia: Imam Ahmad bin Hanbal. Menariknya, ia mendidik Imam Ahmad seorang diri setelah suaminya wafat.
Suaminya: Muhammad bin Hanbal wafat di saat Imam Ahmad berusia 3 tahun. Sang ayah merupakan prajurit kekhalifahan Islam.
Saat ditinggal suaminya, Shafiyah masih tergolong muda. Usianya saat itu sekitar 20 tahun. Tidak heran setelah itu, banyak orang yang melamar. Tapi, semuanya ditolak Shafiyah.
Penolakan itu bukan karena apa-apa. Ia hanya ingin fokus mendidik putra semata wayangnya itu agar bisa menjadi ulama besar.
Shafiyah dan putranya yang masih berusia tiga tahun itu tinggal di sebuah rumah sederhana di tepian Sungai Tigris, Irak, warisan dari suaminya.
Kerja kerasnya dimulai sejak dinihari. Setelah shalat malam, Shafiyah menyibukkan diri menyiapkan segala keperluan putranya. Mulai dari air hangat hingga pakaian bersih untuk dipakai putranya pergi ke masjid dan menuntut ilmu di sana.
Namun begitu, bagi Shafiyah, tiada hari tanpa mendidik putranya itu. Ia mengajarkan putranya tentang Al-Qur’an, tentang hadis, tentang adab, tentang sejarah Nabi dan para sahabat.
Shafiyah menitipkan putranya ke guru Al-Qur’an. Dan, kecerdasan Imam Ahmad memang sudah terlihat sejak masih kecil. Di usia 10 tahun, beliau sudah hafal 30 juz Al-Qur’an.
Dan akhirnya, masa peripsahan itu pun tiba. Di usia yang ke-16, Shafiyah melepas kepergian putranya untuk merantau, mengunjungi para guru yang tersebar di tempat-tempat yang jauh: di Madinah, Mekah, dan San’a.
Imam Ahmad belajar kepada Imam Syafi’i, termasuk juga kepada seorang ulama ahli hadis: Abdullah Ibnu Mubarak yang merupakan guru Imam Bukhari.
Ada hal menarik saat Imam Ahmad muda belajar dengan Ibnu Mubarak: seorang ulama yang juga seorang pebisnis yang kaya.
Saat itu, Abdullah Ibnu Mubarak menawarkan Imam Ahmad pembiayaan yang banyak. Hal ini dimaksudkan agar Imam Ahmad bisa fokus belajar tanpa harus mencari pekerjaan sambilan.
“Wahai Syaikh,” kata Imam Ahmad. “Aku jauh-jauh mendatangimu untuk menimba ilmumu. Bukan mencari hartamu,” ucapnya dengan menjaga adab yang baik agar sang guru tak tersinggung.
Akhirnya, perjuangan Shafiyah yang seorang diri berhasil mengantarkan putranya menjadi ulama besar. Ia menjadi Imam Mazhab keempat setelah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i.
**
Keberhasilan besar seorang ibu adalah lahirnya ‘orang besar’ di bawah didikannya. Meskipun, hal itu ia perjuangkan dengan ala kadarnya, dengan segala keterbatasan yang ia miliki.
Selalulah belajar dari para ibu soleh yang sukses melahirkan tokoh-tokoh yang soleh. Bukan harta dan sarana yang menjadi kunci suksesnya. Melainkan, mutu ibu itu sendiri dan kedekatannya dengan Allah subhanahu wata’ala. [Mh]


