BELAKANGAN ini, hidangan berbahan ikan mentah seperti sushi, sashimi, dan poke bowl semakin digemari masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang segar, banyak orang percaya bahwa mengonsumsi ikan mentah lebih menyehatkan dibandingkan ikan yang dimasak. Salah satu klaim yang paling sering terdengar adalah ikan mentah dapat meningkatkan kesehatan otak. Lalu, benarkah anggapan tersebut?
Jawabannya, ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya karena kondisi ikan mentahnya. Manfaat bagi otak sebenarnya berasal dari kandungan gizi ikan, terutama asam lemak omega-3, bukan karena ikan dikonsumsi dalam keadaan mentah.
Ikan laut seperti salmon, tuna, sarden, dan makarel mengandung dua jenis asam lemak omega-3 yang penting, yaitu EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid). DHA merupakan komponen utama penyusun sel-sel otak dan retina mata. Nutrisi ini berperan dalam membantu menjaga fungsi kognitif, daya ingat, serta mendukung perkembangan otak, terutama pada janin dan anak-anak.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Wisata Air di Semarang yang Menarik untuk Dikunjungi Saat Liburan
Benarkah Konsumsi Ikan Mentah Bermanfaat untuk Kesehatan Otak? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ikan secara rutin berkaitan dengan penurunan risiko penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut. Bahkan, beberapa studi menyebutkan bahwa pola makan yang kaya ikan dapat membantu menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia. Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus menyatakan bahwa ikan harus dimakan mentah.
Sebagian orang beranggapan bahwa ikan mentah mengandung nutrisi lebih utuh karena tidak melalui proses pemanasan. Memang benar, beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas dapat sedikit berkurang selama proses memasak. Namun, kandungan omega-3 pada ikan umumnya tetap terjaga meskipun dimasak dengan cara yang tepat, seperti dikukus, dipanggang, atau direbus.
Di sisi lain, mengonsumsi ikan mentah juga memiliki risiko yang tidak boleh diabaikan. Ikan mentah dapat mengandung bakteri, virus, maupun parasit yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan apabila proses penanganan dan penyimpanannya tidak memenuhi standar keamanan pangan. Risiko ini lebih tinggi pada ikan air tawar dibandingkan ikan laut, tetapi tetap perlu diperhatikan pada semua jenis ikan.
Beberapa parasit, seperti Anisakis, diketahui dapat menginfeksi saluran pencernaan manusia apabila ikan yang terkontaminasi dikonsumsi tanpa proses pemasakan yang memadai. Selain itu, bakteri seperti Salmonella dan Vibrio juga dapat menyebabkan keracunan makanan.
Karena itu, jika ingin menikmati hidangan ikan mentah, pastikan memilih restoran yang menerapkan standar keamanan pangan dengan baik dan menggunakan ikan berkualitas sashimi atau sushi grade. Meskipun istilah “sushi grade” bukan standar resmi internasional, umumnya ikan tersebut telah melalui proses penanganan dan pembekuan tertentu untuk membantu menurunkan risiko keberadaan parasit.
Bagi ibu hamil, anak kecil, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, para ahli kesehatan umumnya menyarankan untuk menghindari konsumsi ikan mentah. Kelompok ini lebih rentan mengalami komplikasi apabila terjadi infeksi akibat makanan yang terkontaminasi.
Jika tujuan utamanya adalah memperoleh manfaat omega-3 untuk kesehatan otak, sebenarnya tidak harus mengonsumsi ikan mentah. Ikan yang dimasak dengan benar tetap menjadi sumber DHA dan EPA yang sangat baik. Bahkan, cara ini lebih aman karena mampu membunuh sebagian besar mikroorganisme yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, manfaat ikan bagi otak memang didukung oleh banyak penelitian ilmiah. Namun, manfaat tersebut berasal dari kandungan gizinya, bukan dari kondisi ikan yang harus dimakan mentah. Mengonsumsi ikan dua hingga tiga kali seminggu sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang tetap menjadi pilihan yang lebih bijak untuk menjaga kesehatan otak sekaligus meminimalkan risiko penyakit akibat makanan. [DW]





