KENAPA di balik cinta ada luka? Pertanyaan seperti ini mungkin pernah terlintas ketika seseorang yang begitu kita sayangi justru menjadi alasan hati terasa sedih. Kita sudah memberikan perhatian, waktu, dan ketulusan, tetapi pada akhirnya tidak semua berjalan seperti yang diharapkan.
Sering kali, luka dalam cinta bukan semata-mata karena kita terlalu mencintai seseorang. Ada kalanya luka muncul karena kita menaruh terlalu banyak harapan kepada manusia. Kita berharap seseorang akan selalu memahami, selalu ada, selalu memberikan perhatian yang sama, atau tidak pernah berubah. Padahal manusia memiliki hati yang bisa berubah-ubah.
Baca Juga: Jangan Bersedih Allah Bersama Kita
Ketika Cinta Membuat Hatimu Terluka
Hari ini seseorang mungkin begitu perhatian, tetapi belum tentu sikap yang sama kita terima esok hari. Perasaan yang dahulu hangat pun bisa berubah seiring waktu. Bukan berarti semua ketulusan menjadi sia-sia, tetapi kita perlu memahami bahwa manusia memang memiliki keterbatasan.
Ketika seluruh kebahagiaan digantungkan pada seseorang, perubahan kecil dalam sikapnya dapat terasa seperti kehilangan dunia. Pesan yang tidak kunjung dibalas bisa membuat gelisah. Perhatian yang berkurang bisa menimbulkan pertanyaan. Sikap yang berubah dapat membuat kita sibuk mencari kesalahan pada diri sendiri.
Padahal, ada satu tempat bergantung yang tidak pernah berubah, yaitu Allah.
Mencintai seseorang karena Allah bukan berarti kita tidak boleh berharap kepada orang yang kita sayangi. Namun, hati perlu belajar menempatkan harapan pada tempat yang tepat. Kita boleh mencintai, tetapi jangan sampai cinta kepada manusia membuat kita lupa kepada Sang Pemilik hati.
Ketika cinta diniatkan karena Allah, hubungan tidak hanya berisi keinginan untuk memiliki. Ada doa di dalamnya, ada keikhlasan, ada kesediaan untuk menerima bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan.
Jika seseorang tetap bersama kita, semoga cinta itu menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Jika suatu hari seseorang memilih pergi, semoga hati tetap memiliki tempat untuk bersandar kepada-Nya.
Barangkali inilah salah satu cara menikmati cinta tanpa terus-menerus takut terluka. Bukan dengan berhenti mencintai, melainkan dengan mengurangi ketergantungan hati kepada manusia.
Sebab manusia bisa berubah. Perhatiannya bisa berkurang. Perasaannya bisa berganti. Namun, Allah selalu menjadi tempat kembali ketika hati sedang penuh dengan kecewa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Maka, cintailah dengan tulus, tetapi serahkan hasilnya kepada Allah. Jangan jadikan manusia sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Karena ketika harapan hanya ditujukan kepada-Nya, kehilangan tidak lagi terasa sebagai akhir dari segalanya. Hati mungkin tetap menangis, tetapi ia tahu kepada siapa harus pulang. [DW]
Sumber: Ustadzah Aisyah Farid





