MAKANAN fermentasi semakin populer karena dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan pencernaan. Berbagai jenis makanan seperti kimchi, tempe, yogurt, kefir, miso, tape, oncom, hingga sauerkraut mengandung mikroorganisme hasil proses fermentasi yang dapat memberikan dampak positif bagi tubuh.
Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan fermentasi dalam jumlah wajar dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Meski demikian, bukan berarti makanan fermentasi dapat dikonsumsi tanpa batas. Seperti halnya jenis makanan lain, konsumsi yang berlebihan justru berpotensi menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, terutama pada orang yang memiliki kondisi medis tertentu.
Berikut beberapa risiko yang perlu diketahui.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Wisata Air di Semarang yang Menarik untuk Dikunjungi Saat Liburan
Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Fermentasi, Apa Saja Risikonya bagi Kesehatan?
1. Menyebabkan Perut Kembung dan Gangguan Pencernaan
Bagi seseorang yang belum terbiasa mengonsumsi makanan fermentasi, menambah porsinya secara tiba-tiba dapat memicu rasa tidak nyaman pada saluran cerna. Mikroorganisme hasil fermentasi dan kandungan serat di dalam beberapa makanan dapat meningkatkan produksi gas di usus sehingga menimbulkan perut kembung, begah, bahkan diare ringan pada sebagian orang. Harvard Health juga menyarankan agar konsumsi makanan fermentasi dilakukan secara bertahap, bukan langsung dalam jumlah besar.
2. Asupan Garam Bisa Menjadi Berlebihan
Banyak makanan fermentasi tradisional menggunakan garam dalam proses pembuatannya, misalnya kimchi, acar fermentasi, tauco, atau miso. Jika dikonsumsi terlalu sering dalam porsi besar, kandungan natriumnya dapat meningkatkan total asupan garam harian.
Konsumsi natrium yang berlebihan diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu, penderita hipertensi sebaiknya lebih memperhatikan porsi makanan fermentasi yang tinggi garam.
3. Memicu Reaksi pada Orang yang Sensitif terhadap Histamin
Selama proses fermentasi, beberapa makanan dapat menghasilkan senyawa yang disebut amina biogenik, termasuk histamin dan tiramin. Pada sebagian orang yang memiliki intoleransi histamin, konsumsi makanan fermentasi dalam jumlah banyak dapat memicu gejala seperti sakit kepala, kemerahan pada kulit, hidung tersumbat, jantung berdebar, hingga gangguan pencernaan.
Risiko ini tidak dialami semua orang, tetapi individu dengan intoleransi histamin atau yang mengonsumsi obat golongan monoamine oxidase inhibitor (MAOI) perlu lebih berhati-hati.
4. Tidak Semua Makanan Fermentasi Mengandung Probiotik Aktif
Banyak orang menganggap semua makanan fermentasi pasti mengandung probiotik yang bermanfaat. Faktanya, tidak selalu demikian.
Beberapa produk mengalami proses pasteurisasi atau pemanasan setelah fermentasi sehingga sebagian besar mikroorganisme hidupnya sudah tidak aktif lagi. Ada pula produk yang difermentasi menggunakan cuka, bukan melalui proses fermentasi alami dengan bakteri hidup. Karena itu, manfaat setiap produk fermentasi bisa berbeda-beda.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
5. Tidak Selalu Cocok untuk Semua Orang
Walaupun umumnya aman, makanan fermentasi tidak selalu cocok bagi semua individu. Orang dengan daya tahan tubuh yang sangat lemah, gangguan saluran cerna tertentu, atau kondisi medis khusus sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi makanan fermentasi secara rutin.
Selain itu, kebersihan proses pembuatan juga perlu diperhatikan. Fermentasi yang tidak dilakukan dengan higienis dapat meningkatkan risiko kontaminasi mikroorganisme yang tidak diinginkan.
***
Bukan berarti makanan fermentasi harus dihindari. Justru berbagai makanan fermentasi seperti tempe, yogurt, dan kimchi tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
Kuncinya adalah mengimbanginya dengan sayuran, buah, protein berkualitas, serta asupan air putih yang cukup. Jika baru mulai mengonsumsi makanan fermentasi, tambahkan porsinya secara perlahan agar saluran cerna memiliki waktu untuk beradaptasi.





