PEMENANG Future Fashion Designer (FFD) Competition 2026, Arron Bryan Fernaldy Wongso, mengaku tidak menyangka berhasil meraih gelar juara dalam ajang pencarian desainer muda tersebut. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers menjelang peragaan busana bertajuk “L’Entre-Deux: Interwoven Identities”, hasil kolaborasi Future Fashion Designer (FFD), PINTU Incubees, dan École Duperré Paris.
Dalam kesempatan tersebut, Arron mengungkapkan rasa syukur atas pencapaiannya sekaligus kesempatan untuk kembali menampilkan karya di atas runway bersama para finalis lainnya.
“Jujur saya tidak percaya bisa berada di sini, duduk sebagai pemenang Future Fashion Designer Competition 2026. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa bagi saya dan teman-teman kontestan lainnya yang hari ini juga menampilkan koleksi mereka,” ujar Arron.
Ia menjelaskan, waktu persiapan menuju peragaan busana terbilang sangat singkat. Setelah babak final kompetisi, para desainer hanya memiliki waktu kurang dari dua bulan untuk mengembangkan koleksi baru.
Menurut Arron, proses kreatif dimulai dari brainstorming konsep, pemilihan material, hingga proses menjahit yang memakan waktu sekitar satu bulan. Koleksi yang ditampilkan kali ini merupakan pengembangan dari karya yang telah dibuat saat kompetisi.
“Kami melanjutkan koleksi yang sebelumnya sudah dibuat saat kompetisi, kemudian mengembangkannya lagi menjadi satu rangkaian koleksi dengan nilai dan eksplorasi yang lebih kuat,” katanya.
Baca juga: Anti Gerah, Simak Lima Style Fashion Hijab Liburan ke Pantai
Arron Bryan Fernaldy Wongso Tak Menyangka Jadi Juara Future Fashion Designer 2026, Siap Tampilkan Koleksi Baru
Arron mengungkapkan bahwa tema “Opposite” yang menjadi konsep pada babak final FFD tetap dipertahankan dalam koleksi terbaru. Namun, tantangan kali ini adalah menghadirkan interpretasi baru dari tema tersebut.
Ia menjelaskan bahwa setiap elemen mulai dari tekstur, konsep, hingga karakter desain harus dibalik dari inspirasi awal, tetapi tetap memiliki keterkaitan satu sama lain.
“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menghadirkan karakter yang benar-benar berlawanan dari inspirasi awal. Tekstur, ide, dan konsep semuanya harus diputarbalikkan, tetapi tetap saling terhubung sehingga membentuk satu kesatuan cerita,” jelasnya.
Selain mengikuti kompetisi, Arron bersama para peserta juga menjalani program intensif selama dua minggu bersama Future Fashion Designer by JF3. Program tersebut membuka kesempatan bagi mereka untuk tampil di runway bersama desainer-desainer muda dari berbagai negara.

Bagi Arron, pengalaman tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan kariernya di dunia mode. Ia mengaku ini merupakan kali ketiga dirinya tampil di panggung JF3, namun kali ini terasa jauh berbeda karena hadir sebagai pemenang Future Fashion Designer.
“Ini sudah ketiga kalinya saya menampilkan mini collection di JF3. Tetapi kali ini sangat berbeda karena saya hadir sebagai winner FFD. Standarnya tentu lebih tinggi dan menjadi tantangan baru bagi saya,” ungkapnya.
Di akhir penyampaiannya, Arron memberikan pesan kepada para desainer muda agar tidak takut mencoba dan terus mengembangkan kemampuan mereka.
“Pesan saya, teruslah mencoba. Saya sendiri tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini dan kembali menampilkan koleksi saya. Yang terpenting, tetap berusaha dan serahkan semua yang kita percayakan kepada Tuhan,” tuturnya.
Ajang L’Entre-Deux: Interwoven Identities menjadi panggung kolaborasi internasional lintas generasi yang mempertemukan talenta Indonesia dan Prancis untuk mengeksplorasi titik temu budaya dan perspektif kreatif, menjadikan fashion sebagai bahasa dialog.
Berdasarkan informasi yang disampaikan panitia, Future Fashion Designer (FFD) merupakan kompetisi desain busana yang diperuntukkan bagi lulusan maupun mahasiswa berlatar belakang sekolah mode. Program ini digagas oleh Susan Budihardjo dan berkolaborasi dengan JF3 sebagai wadah pengembangan desainer muda Indonesia.
Dalam presentasi koleksi kali ini, Arron Bryan Fernaldy Wongso tampil bersama sejumlah finalis lainnya, yakni Agatha Lievia, Azzahra Najmanisa, Nabila Karimah, dan Tashannie Abigail Lukman, yang turut memperlihatkan hasil eksplorasi desain mereka dalam tema “L’Entre-Deux: Interwoven Identities”. [Din]





