DALAM kehidupan, setiap orang pasti pernah merasa lelah. Ada yang lelah karena pekerjaan yang menumpuk, persoalan keluarga yang tak kunjung selesai, kondisi ekonomi yang sulit, atau harapan yang berkali-kali belum menjadi kenyataan. Tak sedikit orang mengira bahwa sumber kelelahan itu semata-mata berasal dari banyaknya masalah yang dihadapi. Padahal, bisa jadi yang membuat hati terasa begitu berat bukanlah masalah itu sendiri, melainkan karena kita belum benar-benar berserah kepada Allah.
Allah SWT telah mengajarkan sebuah doa yang sangat indah melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an:
“Dan aku menyerahkan segala urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir: 44)
Ayat ini mengajarkan bahwa setelah seseorang berusaha semaksimal mungkin, ada satu tahap yang tidak boleh dilupakan, yaitu menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Berserah bukan berarti berhenti berikhtiar, melainkan menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah memiliki kuasa atas segala sesuatu.
Baca Juga: Ketika Umar Ingin Mengalahkan Abu Bakar: Kisah Sedekah yang Menjadi Pelajaran Sepanjang Zaman
Kamu Lelah Karena Hatimu Kurang Berserah
Sering kali kita merasa letih karena ingin mengendalikan semuanya. Kita ingin semua rencana berjalan sesuai keinginan, semua doa segera dikabulkan, dan semua masalah cepat selesai. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, hati mulai dipenuhi rasa kecewa, cemas, bahkan putus asa. Padahal, belum tentu apa yang kita inginkan adalah yang terbaik menurut Allah.
Berserah diri kepada Allah justru menghadirkan ketenangan. Hati tidak lagi dipenuhi rasa takut terhadap hal-hal yang belum terjadi. Pikiran tidak terus-menerus memikirkan kemungkinan terburuk. Sebaliknya, seseorang akan lebih fokus menjalani hari ini dengan penuh keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Rasa tawakal bukan muncul tanpa usaha. Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim terlebih dahulu mengikat untanya, kemudian bertawakal kepada Allah. Artinya, usaha tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh, namun hati tidak bergantung pada usaha itu, melainkan kepada Allah yang menentukan hasil akhirnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, berserah bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Ketika sedang mencari pekerjaan, lakukan persiapan terbaik sambil terus berdoa. Saat menghadapi ujian, belajar dengan sungguh-sungguh lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Ketika memiliki masalah keluarga, terus ikhtiar memperbaiki keadaan tanpa kehilangan keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar pada waktu yang paling tepat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semakin seseorang menggantungkan harapannya kepada Allah, semakin ringan pula beban yang ia rasakan. Ia memahami bahwa tidak semua hal harus dipahami sekarang. Ada takdir yang baru akan terlihat hikmahnya beberapa tahun kemudian. Ada doa yang belum dikabulkan karena Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.
Sebaliknya, ketika hati terus menggenggam semua urusan sendirian, kelelahan akan semakin bertambah. Pikiran dipenuhi kecemasan, tidur menjadi tidak nyenyak, dan hati mudah gelisah. Padahal Allah telah mengundang hamba-Nya untuk menyerahkan segala urusan kepada-Nya.
Berserah bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keimanan yang matang. Orang yang bertawakal percaya bahwa apa pun keputusan Allah pasti mengandung kebaikan, meskipun belum mampu dipahami saat ini.
Maka jika hari ini hati terasa sangat lelah, cobalah bertanya kepada diri sendiri. Apakah selama ini kita terlalu sibuk memikul semua beban seorang diri? Ataukah kita sudah benar-benar menyerahkan urusan itu kepada Allah?
Karena sejatinya, bukan selalu masalah yang membuat seseorang kehabisan tenaga. Sering kali yang menguras hati adalah keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kemampuan manusia. Saat hati belajar berserah, di situlah ketenangan mulai tumbuh, dan kita menyadari bahwa Allah selalu melihat, menjaga, serta menolong hamba-hamba-Nya yang menggantungkan harapan hanya kepada-Nya. [DW]
Sumber: Ustadz Muhammad Assad





