DHUBA’AH binti Zubair merupakan putri dari Zubair bin Abdul Muththalib, salah seorang paman Rasulullah. Dengan demikian, beliau masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Rasulullah. Sebagai bagian dari keluarga Bani Hasyim, Dhuba’ah tumbuh dalam lingkungan yang mulia dan kemudian termasuk perempuan yang menerima cahaya Islam.
Nama Dhuba’ah banyak disebut dalam kitab-kitab hadis karena sebuah peristiwa yang berkaitan dengan ibadah haji. Ketika itu, beliau berniat menunaikan haji, tetapi kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Ia khawatir tidak mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah sebagaimana mestinya.
Dalam keadaan tersebut, Dhuba’ah mendatangi Rasulullah untuk meminta petunjuk. Beliau tidak memaksakan diri ataupun menyembunyikan kelemahannya. Sebaliknya, ia menyampaikan kondisi yang sebenarnya kepada Nabi. Sikap ini menunjukkan bahwa seorang muslim dianjurkan untuk bersikap jujur mengenai kemampuannya dalam beribadah.
Baca Juga: Khaulah binti Tuwait, Muslimah yang Diingatkan Rasulullah agar Beribadah dengan Seimbang
Simak Kisah Dhuba’ah binti Zubair yang Mendapat Kemudahan dalam Beribadah
Rasulullah kemudian memberikan solusi yang penuh hikmah. Beliau bersabda agar Dhuba’ah tetap berihram sambil mengucapkan syarat:
“Ya Allah, tempat tahallulku adalah di tempat Engkau menahanku.”
Melalui syarat tersebut, apabila ia benar-benar terhalang karena sakit atau kondisi lain yang dibenarkan syariat, maka ia diperbolehkan mengakhiri ihramnya tanpa menanggung kesulitan yang berlebihan.
Hadis ini kemudian menjadi salah satu dasar hukum dalam fikih mengenai isytirath, yaitu memberikan syarat ketika berniat ihram bagi orang yang memiliki uzur atau kekhawatiran tidak dapat menyempurnakan ibadah haji maupun umrah.
Kisah Dhuba’ah mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang memberatkan. Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya, bukan kesulitan. Ketika seseorang memiliki alasan yang benar menurut syariat, Islam memberikan jalan keluar tanpa mengurangi nilai ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Selain itu, Dhuba’ah juga menunjukkan akhlak seorang muslimah yang patut diteladani. Meskipun sedang sakit, keinginannya untuk beribadah tetap besar. Ia tidak menjadikan kelemahannya sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan. Sebaliknya, ia mencari solusi yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Pelajaran lain yang dapat dipetik adalah pentingnya bertanya kepada orang yang berilmu ketika menghadapi persoalan agama. Dhuba’ah tidak mengambil keputusan berdasarkan perkiraannya sendiri. Ia langsung meminta bimbingan kepada Rasulullah sehingga mendapatkan petunjuk yang benar.
Hingga kini, tuntunan yang diajarkan Nabi kepada Dhuba’ah masih diamalkan oleh jutaan kaum muslimin yang hendak menunaikan haji atau umrah, khususnya mereka yang memiliki penyakit kronis, lanjut usia, atau kondisi kesehatan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa satu pertanyaan yang diajukan dengan niat mencari kebenaran dapat menjadi manfaat bagi umat Islam sepanjang zaman.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Meski riwayat tentang kehidupan pribadi Dhuba’ah tidak sebanyak shahabiyah lainnya, namanya tetap dikenang dalam literatur Islam karena menjadi sebab tersampaikannya salah satu kemudahan syariat. Kisah beliau mengingatkan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang ingin taat, sekalipun berada dalam keterbatasan. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





