FENOMENA Distrust Society, ditulis oleh Ruli Alqodri Mustafa. Kepercayaan adalah fondasi yang menyangga kehidupan berbangsa. Sebaik apa pun sistem pemerintahan, ia akan kehilangan daya apabila rakyat tidak lagi percaya kepada institusi negara, media, maupun sesama warga. Kondisi inilah yang dikenal sebagai distrust society, yakni krisis kepercayaan publik yang meluas.
Fenomena ini biasanya dipicu oleh kesenjangan ekonomi, polarisasi politik, serta praktik korupsi dan kolusi yang berlangsung secara kronis. Ketika masyarakat berulang kali menyaksikan penyalahgunaan kekuasaan, jual beli pengaruh, atau penegakan hukum yang dianggap tebang pilih, muncul persepsi bahwa aturan hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Akibatnya, setiap kebijakan pemerintah mudah dicurigai, informasi resmi diragukan, dan kepercayaan publik terus terkikis.
baca juga: Rasulullah Memiliki Kemampuan Memahami Budaya Masyarakatnya
Membaca Fenomena “Distrust Society”
Dalam perspektif psikologi sosial, kepercayaan (social trust) merupakan perekat utama kehidupan kolektif. Ketika kepercayaan melemah, kerja sama berubah menjadi saling curiga, dialog berganti prasangka, dan perbedaan pendapat mudah berkembang menjadi konflik. Di era media sosial, kondisi ini semakin diperparah oleh echo chamber dan confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang hanya menerima informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri.
Bahaya terbesar distrust society bukan hanya terhambatnya jalannya pemerintahan, tetapi juga terkikisnya solidaritas sosial. Korupsi dan kolusi yang dibiarkan berulang bukan sekadar menguras keuangan negara, melainkan juga menggerogoti modal sosial berupa kepercayaan. Ketika kepercayaan runtuh, demokrasi kehilangan legitimasi, partisipasi publik melemah, dan konflik sosial lebih mudah dipicu.
Karena itu, membangun kembali kepercayaan harus menjadi prioritas bersama. Pemerintah dituntut menghadirkan transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu. Di sisi lain, masyarakat perlu tetap kritis tanpa terjebak dalam sinisme. Kritik yang berbasis fakta merupakan kekuatan demokrasi, sedangkan kecurigaan tanpa dasar hanya akan memperlemah kehidupan bersama.
Sebagaimana dikemukakan oleh Francis Fukuyama, kepercayaan merupakan modal sosial yang menentukan kuat atau lemahnya sebuah masyarakat. Pada akhirnya, masa depan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga integritas lembaga publik. Sebab, korupsi dapat menguras anggaran, tetapi hilangnya kepercayaan publik dapat menguras masa depan bangsa.[ind]
Referensi: Fukuyama, F. (1995). Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. New York: Free Press.





