TINGGINYA intensitas penggunaan media sosial di kalangan Gen Z menjadi salah satu perhatian dalam gelaran Press Conference Lightplus Lightperience Picnic 2026 yang berlangsung di The Gallery, Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).
Melalui acara bertajuk Lightplus Lightperience Picnic 2026, Lightplus by Wardah menghadirkan ruang diskusi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan kulit dan kesehatan mental di tengah gaya hidup digital.
Mengusung konsep curated beauty fourth space, Lightplus Lightperience Picnic 2026 dirancang sebagai ruang bagi Gen Z untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia maya, berekspresi, membangun koneksi secara langsung, sekaligus mengenal kebutuhan kulit dan diri mereka melalui berbagai aktivitas seperti journaling, crafting class, hingga edukasi mengenai personalized skincare.
Salah satu narasumber, Sasya Sava selaku Mental Health Counselor, mengungkapkan bahwa media sosial menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi psikologis generasi muda saat ini.
“Sebanyak 75 persen Gen Z menggunakan media sosial. Namun di balik itu, banyak dari mereka yang sebenarnya mengalami stres dan kecemasan karena penggunaan media sosial,” ujar Sasya.
Lightplus Lightperience Picnic 2026 Soroti Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Gen Z
Menurutnya, terdapat empat tantangan utama yang sering dialami Gen Z ketika aktif di media sosial. Tantangan pertama adalah social comparison, yaitu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, baik dengan teman sendiri maupun kreator konten dan influencer yang mereka lihat setiap hari.
“Kita sering tanpa sadar membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampil di media sosial. Padahal apa yang terlihat belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya,” jelasnya.
Tantangan kedua adalah Fear of Missing Out (FOMO). Sasya menjelaskan, setelah membandingkan diri dengan orang lain, banyak anak muda merasa tertinggal dari pencapaian maupun pengalaman orang lain. Kondisi ini sering kali memicu tekanan untuk terus produktif atau yang dikenal sebagai toxic productivity.
Selain itu, Sasya menyoroti paradoks media sosial yang justru dapat memunculkan rasa kesepian. Meski media sosial menawarkan ruang interaksi yang sangat luas, hubungan yang tercipta secara virtual dinilai tidak mampu sepenuhnya menggantikan koneksi secara langsung.
“Gen Z sebenarnya merasa sangat kesepian. Koneksi yang terbangun melalui media sosial tidak selalu memberikan perasaan yang sama seperti ketika berinteraksi secara langsung,” katanya.
Faktor terakhir yang disoroti adalah digital fatigue atau kelelahan digital. Menurut Sasya, kebiasaan menggulir layar (scrolling) dalam waktu lama membuat otak menerima rangsangan emosi yang terus berubah dalam waktu singkat.
“Setiap kali kita scrolling, setiap konten membawa emosi yang berbeda. Otak mengalami lonjakan dopamin secara terus-menerus sehingga memicu kelelahan mental, bahkan muncul fenomena seperti brain rot dan emotional overload,” paparnya.
Melalui Lightplus Lightperience Picnic 2026, Lightplus berharap dapat menghadirkan pengalaman yang membantu Gen Z mengurangi tekanan akibat kehidupan digital. Tidak hanya melalui edukasi mengenai kesehatan kulit, acara ini juga mendorong peserta untuk membangun koneksi nyata, menikmati aktivitas kreatif, dan memberikan ruang bagi kesehatan mental agar tetap terjaga.
Selain Sasya Sava, acara ini juga menghadirkan Nastiti Prawitasari selaku Brand Representative Lightplus, Xaviera Putri sebagai Face of Lightplus, dr. Iksanuddin Qothi sebagai Skinfluencer, serta Nurani Istiqomah selaku Lightplus Research & Development Scientist. Bersama-sama, mereka menekankan pentingnya pendekatan yang holistik terhadap kesehatan, sejalan dengan pesan utama Lightplus, “Light on Your Skin, Light on Your Mind.” [Din]





