HATI manusia diciptakan untuk mencintai. Kita mencintai orang tua, pasangan, anak, sahabat, harta, pekerjaan, hingga cita-cita yang ingin diwujudkan. Semua bentuk cinta itu adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Namun, Islam mengajarkan bahwa seluruh rasa cinta tersebut harus berada di bawah cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam salah satu nasihat yang dinukil dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah disebutkan bahwa ada sebuah sunnatullah atau ketetapan Allah yang tidak pernah berubah. Beliau menjelaskan bahwa siapa saja yang mencintai sesuatu melebihi cintanya kepada Allah, maka ia akan merasakan penderitaan karena hal tersebut. Inilah salah satu penyebab sakit hati yang sering kali tidak disadari.
Mengapa demikian? Karena segala sesuatu selain Allah bersifat sementara. Manusia bisa berubah, harta bisa hilang, jabatan dapat dicabut, kesehatan dapat menurun, bahkan orang yang paling kita cintai pun suatu saat akan berpisah dengan kita. Jika seluruh kebahagiaan digantungkan kepada sesuatu yang fana, maka ketika hal itu hilang, hati pun ikut hancur.
Sebaliknya, Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya. Ketika seseorang menjadikan Allah sebagai tujuan utama hidupnya, ia tetap mampu berdiri meskipun kehilangan banyak hal di dunia. Kesedihan memang tetap ada, tetapi tidak sampai menghancurkan keimanannya.
Baca Juga: Kisah Teladan Tsabit bin Dahdah yang Menukar Hartanya dengan Surga
Ternyata Inilah Faktor Terbesar Penyebab Sakit Hati
Bukan berarti Islam melarang kita mencintai keluarga atau menikmati nikmat dunia. Rasulullah juga mencintai keluarganya, para sahabatnya, bahkan memiliki kesayangan terhadap beberapa hal di dunia. Namun, semua itu tidak pernah menggeser kecintaan beliau kepada Allah. Itulah keseimbangan yang perlu kita pelajari.
Sering kali sakit hati muncul karena harapan yang terlalu besar kepada manusia. Kita berharap dipahami, dihargai, dibalas dengan perlakuan yang sama, atau selalu diprioritaskan. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati menjadi kecewa. Padahal manusia memiliki banyak keterbatasan. Mereka bisa lupa, salah, bahkan mengecewakan tanpa sengaja.
Karena itu, salah satu cara menjaga hati adalah meluruskan niat dan memperkuat hubungan dengan Allah. Saat hati mulai terlalu bergantung kepada seseorang atau sesuatu, segeralah mengingat bahwa semua hanyalah titipan. Apa yang Allah titipkan bisa saja diambil kembali kapan saja sesuai kehendak-Nya.
Perbanyak pula doa agar Allah menjaga hati tetap bersih dan tidak mudah bergantung kepada makhluk. Isi hati dengan membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, menghadiri majelis ilmu, serta memperbaiki kualitas ibadah. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin kuat pula hatinya menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, sakit hati bukan selalu disebabkan oleh perlakuan orang lain. Terkadang sumbernya adalah karena hati telah menempatkan sesuatu di posisi yang seharusnya hanya dimiliki oleh Allah. Jika cinta kepada Allah menjadi yang paling utama, maka kehilangan tidak akan menghancurkan, kegagalan tidak akan memutus harapan, dan ujian akan menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. [DW]





