IBADAH haji itu perjuangan. Begitu pun yang pernah berlangsung di tahun 1928, di masa Pemerintahan Hindia Belanda.
Meski Indonesia belum merdeka, umat Islam di tahun 1928 tetap melaksanakan ibadah haji. Begitu pun di tahun-tahun sebelum dan sesudahnya.
Naik Kapal Uap Belanda
Pada tahun itu belum ada pesawat. Yang ada kapal uap besar berpenumpang ribuan orang. Dan saat itu, Belanda sudah memilikinya.
Pemerintah Hindia Belanda saat itu juga mengurus perjalanan haji rakyat Indonesia. Mereka menyediakan kapal, mengatur perjalanan pergi dan pulang, menjaga keamanan, hingga soal kesehatan jamaah.
Biaya satu orang sebesar seribu gulden. Nilai itu jika diukur kurs gulden terakhir sekitar 10 juta rupiah. Meski begitu, tak banyak orang yang mampu membayar.
Dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok
Perjalanan suci ini dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pemerintah Belanda memeriksa kelengkapan tiket dan akomodasi lainnya.
Jangan bayangkan ada petugas khusus yang melayani barang-barang jamaah. Para jamaah itu sendirilah yang membawa dan menjaganya selama di perjalanan panjang.
Setelah semua muatan rampung, perjalanan pun dimulai. Untuk pemberhentian pertama, kapal singgah Palembang. Di sini, kapal memuat jamaah lain dari kawasan itu.
Kapal pun berangkat lagi. Untuk pemberhentian selanjutnya, kapal singgah di Malaka. Di sini pun kapal memuat jamaah lain yang sudah menunggu.
Terakhir, kapal singgah di Pulau Sabang. Di sini, bukan untuk mengangkut penumpang baru. Tapi, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Jika ada penumpang yang terjangkit penyakit menular, maka dilarang berangkat dan akan menjalani perawatan di Sabang.
Jika muatan kapal masih dirasa ‘kosong’, maka kapal akan singgah lagi di India. Lagi-lagi, kapal akan memuat jamaah haji yang berasal dari kawasan India.
Tiba di Pelabuhan Jedah
Setelah kapal mengarungi samudera selama kurang lebih antara 45 hingga 60 hari, perjalanan akan berakhir di Pelabuhan Jedah, Arab Saudi.
Setibanya di Jedah, jamaah haji harus menempuh perjalanan berat berikutnya menuju Mekah. Meski jaraknya hanya sekitar 85 kilometer, alat transportasinya masih jauh dari memadai.
Untuk menempuh jarak itu, jamaah memiliki dua pilihan kendaraan: dengan jasa unta atau dengan kendaraan ‘jalan kaki’. Dan biasanya, sebagian besar jamaah berjalan kaki. Mereka mengarungi gurun yang panas saat itu dengan berjalan kaki 85 kilometer menuju Mekah.
Penginapan di Mekah
Saat itu, jangan bayangkan penginapan berupa hotel-hotel mewah seperti saat ini. Saat itu, penginapannya masih sangat tradisional.
Biasanya, warga di Mekah menyewakan rumahnya untuk jamaah haji. Mereka sengaja membangun rumah-rumah tinggal dengan lebih dari satu lantai. Lantai bawah untuk disewakan ke jamaah haji, dan mereka tinggal di atasnya.
Untuk para jamaah haji yang berasal dari kelompok perjalanan, biasanya mereka sudah punya penginapan rumah khusus dari persatuan jamaah haji daerah tertentu.
Rumah-rumah yang dijadikan penginapan itu merupakan wakaf dari para tokoh-tokoh masyarakat daerah, misalnya Aceh, dan lainnya.
Betapa beratnya perjuangan jamaah haji Indonesia saat itu. Tidak heran jika di saat perpisahan acara keberangkatan dari kampung halaman, suasananya begitu haru. Mereka seperti membayangkan tak akan berjumpa lagi dengan keluarga yang ditinggalkan. [Mh]


