LINGKUNGAN yang dihuni umat Islam tidak selalu bersih dan Islami. Meski begitu, jangan lari dari situ.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih tinggal di Mekah, beliau beribadah menghadap kiblat. Padahal di bangunan Ka’bah waktu itu, ada sekitar ratusan berhala yang dipasang musyrik Quraisy.
Ketika turun perintah shalat wajib, kiblat Allah tetapkan tidak lagi menghadap Ka’bah. Melainkan ke Baitul Maqdis di Palestina. Lokasi Baitul Maqdis berada di sebelah utara Ka’bah.
Kalau umat Islam berada di utara, barat, dan timur Ka’bah, maka mereka tidak lagi menghadap Ka’bah. Melainkan menghadap langsung ke arah Baitul Maqdis di sebelah utara Mekah.
Bagaimana dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan ibadah menghadap dua kiblat sekaligus. Hal ini karena kerinduan beliau dengan Ka’bah sebagai kiblat utama.
Cara Nabi menghadap dua kiblat sekaligus, yaitu dengan selalu shalat di sebelah selatan Ka’bah. Meski beliau menghadap Baitul Maqdis, tapi karena posisi itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga menghadap ke Ka’bah.
Namun ketika setelah hijrah ke Madinah, cara itu tak lagi bisa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun terus berdoa kepada Allah untuk bisa mengembalikan arah kiblat ke Ka’bah. Dan hal itu pun akhirnya diijabah Allah melalui ayat yang turun untuk mengembalikan arah kiblat ke Ka’bah.
Meskipun, sekali lagi, keadaan bangunan Ka’bah saat itu jauh berbeda dengan sekarang. Saat itu, bangunan Ka’bah dikelilingi ratusan berhala.
Baru setelah penaklukan kota Mekah pada tahun ke-8 hijriyah, bangunan Ka’bah bisa dibersihkan secara total dari semua berhala.
**
Islam rasanya tidak dirancang untuk berada di satu lingkungan tertentu: bersih dari berhala, bersih dari kebatilan, bersih dari maksiat, dan lainnya.
Justru, di situlah tantangan dan perjuangannya. Ketika Islam hadir di suatu lingkungan, lambat laun, lingkungan itu akan menjadi mulia: Islami.
Dengan kata lain, jangan pernah ‘lari’ meninggalkan sebuah lingkungan yang dinilai buruk dan ‘kotor’. Lakukan perubahan dengan menunjukkan diri yang ‘bersih’ dan baik. Lambat laun, lingkungan itu pun akan berubah menjadi ‘bersih’ dan baik seperti para dainya. [Mh]


