TSABIT bin Qais Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat dari kaum Anshar yang dipercaya Rasulullah SAW sebagai juru bicara atau orator kaum muslimin. Dengan kemampuan berbicara yang dimilikinya, Tsabit mampu menyampaikan dakwah dan membela kehormatan Islam di hadapan siapa pun.
Tsabit berasal dari suku Khazraj di Madinah. Sejak memeluk Islam, ia menunjukkan kecintaan yang besar kepada Rasulullah SAW. Selain memiliki suara lantang dan kemampuan berbicara yang luar biasa, Tsabit juga dikenal sebagai pribadi yang lembut hati, rendah hati, dan sangat takut kepada Allah SWT.
Salah satu peristiwa yang paling terkenal dalam kehidupan Tsabit terjadi ketika turun firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 2 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…”
Mendengar ayat tersebut, Tsabit merasa sangat takut. Sebagai seorang orator yang memang memiliki suara keras secara alami, ia khawatir termasuk orang yang dimaksud dalam ayat tersebut sehingga seluruh amalnya menjadi sia-sia.
Baca Juga: Halimatus Sa’diyah binti Abu Dzu’aib, Perempuan Mulia yang Menjadi Ibu Susuan Rasulullah
Tsabit bin Qais Al-Anshari, Sang Orator Rasulullah yang Dijamin Mati Syahid
Sejak saat itu, Tsabit memilih mengurung diri di rumah. Ia tidak lagi menghadiri majelis Rasulullah SAW karena merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar. Rasulullah kemudian menyadari ketidakhadirannya dan menanyakan keberadaan Tsabit kepada para sahabat.
Ketika alasan Tsabit disampaikan kepada Rasulullah, beliau justru memberikan kabar yang sangat menggembirakan. Rasulullah bersabda bahwa Tsabit bukan termasuk orang yang celaka. Bahkan beliau menyampaikan kabar bahwa Tsabit akan menjalani kehidupan yang baik, wafat dalam keadaan syahid, dan kelak menjadi penghuni surga. Mendengar kabar tersebut, hati Tsabit kembali tenang dan ia semakin bersemangat beribadah.
Peristiwa ini menunjukkan betapa besar rasa takut para sahabat terhadap murka Allah. Mereka tidak merasa aman dengan amal yang telah dilakukan, tetapi selalu berusaha memperbaiki diri setiap kali turun ayat Al-Qur’an.
Selain dikenal sebagai orator ulung, Tsabit juga ikut serta dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah SAW. Ia selalu berada di barisan kaum muslimin ketika agama Islam membutuhkan pembelaan. Kemampuan berbicaranya digunakan untuk menguatkan semangat kaum muslimin sekaligus menjawab tantangan orang-orang yang memusuhi Islam.
Setelah Rasulullah SAW wafat, Tsabit tetap istiqamah memperjuangkan agama Allah. Ketika terjadi Perang Yamamah pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum muslimin menghadapi pasukan Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi.
Pada awal peperangan, pasukan muslim sempat mengalami tekanan. Melihat keadaan tersebut, Tsabit memotivasi kaum muslimin agar tetap teguh. Ia bahkan mengenakan kain kafan sebelum kembali maju ke medan perang sebagai tanda bahwa dirinya siap mengorbankan nyawa demi membela agama Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dengan penuh keberanian, Tsabit bertempur hingga akhirnya gugur sebagai syahid, sebagaimana kabar yang pernah disampaikan Rasulullah SAW bertahun-tahun sebelumnya. Janji Rasulullah benar-benar terbukti. Tsabit mengakhiri hidupnya sebagai pejuang Islam yang mempertahankan akidah hingga tetes darah terakhir.
Ada pula kisah yang masyhur dalam literatur sejarah Islam bahwa setelah wafat, Tsabit muncul dalam mimpi salah seorang sahabat dan menyampaikan lokasi baju perang serta beberapa pesan terkait utangnya. Setelah diperiksa, informasi tersebut terbukti benar. Riwayat ini sering disebut dalam kitab-kitab sejarah sebagai salah satu bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada Tsabit, meskipun kisah tersebut tidak dijadikan landasan hukum syariat.
Kehidupan Tsabit bin Qais memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam. Ia mengajarkan bahwa kemampuan berbicara seharusnya digunakan untuk menyampaikan kebenaran, bukan menyakiti orang lain. Ia juga menunjukkan pentingnya memiliki rasa takut kepada Allah tanpa kehilangan harapan terhadap rahmat-Nya. [DW]
Sumber: 39 Kisah Shahabiyah. Walidah Ariyani. Win Media: 2022.





